Berita
Diskusi Gusdurian di Cirebon
CIREBON-- Yayasan Hidayatul Mubtadiin di Desa Japurabakti, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyelenggarakan diskusi mengenai moral remaja dalam kerangka kajian pemikiran Gus Dur, Kamis (7/6/2012) sore. Hadir dalam diskusi itu putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, dan Direktur Eksekutif Fahmina Institute Marzuki Wahid.
Peserta diskusi umumnya adalah remaja yang bersekolah di bawah Yayasan Hidayatul Mubtadiin dan pegiat gerakan Gusdurian. Gerakan ini dinamai demikian untuk menunjukkan paham-paham dan pokok pikiran Islam yang toleran dan menjunjung nilai-nilai kebangsaan seperti yang diajarkan Gus Dur.
"Kekerasan atas nama agama yang terjadi sekarang itu lebih karena umat kehilangan prinsip-prinsip yang dulu mereka pegang," ungkap Alissa yang juga Koordinator Gusdurian.
Pribadi Gus Dur yang selalu mendahulukan prinsip-prinsip, seperti kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan pembebasan, adalah teladan bagi umat dalam menghadapi intoleransi yang kian menguat sekarang ini.
"Sekarang orang baru mengerti maksud Gus Dur yang dulu membela kelompok minoritas. Sebab, tirani mayoritas itu tidak baik. Yang harus dijunjung tinggi ialah keadilan, dan kesetaraan sebagai sesama warga bangsa," kata Alissa.
Pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama, menurut Alissa, adalah kelompok baru yang sesungguhnya mereka tak ikut berperan serta dalam pembentukan negara ini. Saat negara ini dibangun, kelompok dengan paham kekerasan seperti mereka belum ada di bumi pertiwi, sehingga mereka tak ikut bernegosiasi mengonsolidasikan bangsa ini.
"Maka wajar jika mereka tidak berkepentingan atau abai terhadap nilai-nilai luhur bangsa yang sudah ditetapkan oleh para pendiri bangsa. Kewajiban kitalah sebagai warga bangsa untuk tetap memegang nilai-nilai atau prinsip berbangsa itu. Pancasila tentunya," kata Alissa.
Marzuki Wahid mengatakan, prinsip-prinsip Gus Dur sangat relevan dalam kondisi intoleransi yang meningkat di Tanah Air. "Banyak dari kami berpikir, seandainya Gus Dur masih hidup tentu tidak sampai seperti ini," katanya.
Oleh karena itu, semua pihak tidak boleh menyerah untuk menyemai sikap berbangsa yang toleran. "Mereka yang melakukan kekerasan dengan membawa-bawa nama agama dan Tuhan, sesungguhnya telah kehilangan makna dalam beragama. Masa mengaku beragama tetapi perilakunya tidak mencerminkan hal itu," tutur Marzuki.
Sumber: kompas.com | Kamis, 7 Juni 2012 | 22:27 WIB

Indonesia
English
Print
Email
Comment
Share