Berita
Bocah-bocah dengan wajah polos itu riang belajar memahami realitas keberagaman di Tanah Air: Indonesia. Pemahaman itu kini berusaha disemai luas sejumlah komunitas kepada anak-anak sejak dini. Harapan mereka generasi mendatang lebih toleran terhadap perbedaan.
Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, menjelang petang, Sabtu (14/7). Keceriaan bertebaran di hampir setiap sudutnya. Sekitar 30 bocah berlari ke sana kemari bercanda bersama. Ketika waktu berkumpul tiba, mereka membuat lingkaran dan bergandeng tangan sambil mendengarkan dua sukarelawan pengajar berbicara.
"Siapa yang berasal Jawa?" tanya Nurhabibie Rifai yang biasa disapa Boby dengan nada lembut. Pertanyaan itu langsung disambar acungan tangan dan teriakan sebagian bocah, "Sayaaa...." Boby bertanya lagi, "Siapa yang berasal dari Sunda? Betawi? Padang?"
Bocah-bocah yang sebelumnya diam saja kini berebutan mengacungkan tangan dan berteriak penuh semangat, "Sayaaa... Sayaaa!"
"Baik anak-anak. Meski berbeda-beda, kita tetap harus berteman dan bermain bersama," ujar Boby. Di sebelah Boby, Siprianus memainkan gitar dikelilingi para bocah. Dia mengajak anak-anak bernyanyi bersama. Lagu yang biasa diajarkan antara lain lagu dolanan berjudul "Nona Manis" yang syairnya diganti. Rukun damai siapa yang suka/ rukun damai siapa yang suka/ rukun damai siapa yang suka/ yang suka kita semua/.
Itulah kegiatan Sekolah Alternatif Pelangi Nusantara yang disampaikan secara informal setiap Sabtu sore. Di antara rerimbunan pohon, rumput kering, dan kesumpekan Kota Jakarta, anak-anak belajar merayakan keberagaman lewat permainan, dongeng, nyanyian, hingga pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.
Belajar memahami
Pemahaman tentang keberagaman juga dirasakan di SMP Tumbuh Yogyakarta. Keberagaman yang dimaksud juga bersangkut paut dengan kondisi setiap siswa. Setiap siswa belajar memahami bahwa tidak semua orang memiliki kondisi dan kebutuhan yang sama.
Mari kita tengok kelas inklusi SMP Tumbuh yang menggabungkan siswa biasa dengan siswa berkebutuhan khusus, mulai dari anak genius, anak dengan attention deficit disorder (ADD), autisme, down syndrome, hingga anak dengan mental retardasi dalam satu kelas. Tidak ada pengotak-ngotakan, mereka dipandang sama istimewanya.
Lihatlah Bernard, siswa Kelas 8, yang mengalami kesulitan berbicara dan kaku dalam bersosialisasi. Rabu (18/7) siang, dia bertugas membimbing Fandi, siswa Kelas 7 tanpa kebutuhan khusus, membuat dokumen presentasi dengan program komputer.
Bernard berusaha keras memberi instruksi yang jelas. "Pencet tombol 'File', klik 'New'. Tulis judul presentasinya.... Tekan 'shift', ketik 's'. Lepaskan tombol 'shift', ketik 't', ketik 'u', ketik 'd'. Tulis nama...," ujarnya sepotong-sepotong.
Meski Fandi memahami instruksi itu, tetap saja Bernard mengeja ulang setiap perintah huruf demi huruf. Begitulah selama 40 menit keduanya berinteraksi, belajar saling memahami, dan bertoleransi pada keterbatasan masing-masing.
Seperti Bernard, Fauzi (13), siswa Kelas 8 yang mengalami autisme, membangun kepercayaan diri dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Dia antusias menceritakan aktivitasnya mengumpulkan plastik dan mengubahnya menjadi karya seni.
"Sekarang lihat laboratorium kami. Ada globe dan mikroskop," kata Fauzi setengah berlari membuka pintu ruangan lainnya, lantas bercerita dengan cepat dan nyaris tak bisa disela.
Kepala SMP Tumbuh Sari Oktafiana paham anak berkebutuhan khusus akan berkembang pesat justru jika bebas berinteraksi dengan anak kebanyakan. Interaksi di antara mereka menjadi ruang pembelajaran yang timbal balik. "Sering kali kami terkejut dengan kemampuan mereka saling bertoleransi."
Di Solo, Senin (16/7), para aktivis Sahabat Anak Solo menggelar rapat rencana kunjungan 60 anak dari sejumlah gereja dan wihara ke Pondok Pesantren Al Muayat Widan pada hari kedua bulan Ramadhan, 22 Juli 2012. Anak-anak akan diajak berbuka puasa bersama para santri. Lewat kegiatan itu, mereka diharapkan bisa mengecap secuil kehidupan santri dan memahami adab di lingkungan masyarakat yang berbeda keyakinan.
"Jangan sampai, misalnya, anak-anak memakai alas kaki di area suci. Sebaiknya pimpinan pondok yang nanti menjelaskan langsung tata cara itu kepada anak-anak," ujar Haryani Saptaningtyas, sukarelawan Persemaian Cinta Kemanusiaan (Percik) yang berjejaring dengan Sahabat Anak.
Kegelisahan
Apa yang mendorong mereka mau bersusah payah mengenalkan keberagaman kepada anak- anak? Koordinator Sahabat Anak Solo, Bruder Heribertus Irianto FIC, mengatakan, pihaknya ingin membuka ruang bermain dan ruang berinteraksi bagi anak-anak usia 4-12 tahun dari berbagai latar belakang etnis, keyakinan, dan sosial-ekonomi. "Semoga (lewat interaksi itu) mereka menjadi paham bahwa Indonesia itu beragam."
Itulah yang menjadi persoalan. Pemahaman tentang keberagaman justru kian tergerus. Hal itu juga menggelisahkan Ati Muayati (33), pendiri Sekolah Alternatif Pelangi Nusantara.
"Bagaimana tidak gelisah, bahkan dunia pendidikan pun ikut mengotak-ngotakkan orang berdasarkan perbedaan. Beberapa sekolah bahkan mengajarkan siswanya bersikap tidak toleran pada perbedaan," ujar Ati, guru yang aktif berkegiatan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Prihatin dengan kondisi itu, Ati dan beberapa ibu di Matraman Dalam, Jakarta Pusat, memutuskan mendirikan Sekolah Pelangi pada April 2011. Lewat sekolah informal ini, Ati ingin memberi pemahaman sejak dini bahwa kita beragam.
"Ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Betawi, Jawa, Sunda, Aceh, dan seterusnya. Ada yang kaya, ada yang miskin. Meski begitu, kita tetap bisa hidup damai, saling menghormati, dan bisa bekerja sama," ujar Ati.
Inisiatif itu disambut sejumlah ibu, termasuk Eti Maryati (37). Dia membawa dua anaknya, Muhammad Alfi (11) dan Haifa Al Nasti (9), ikut kegiatan Sekolah Pelangi. "Di sini, anak saya dapat pelajaran sekolah dan budi pekerti gratis. Alhamdulillah, tuh anak sekarang jadi pade sopan," ujar Eti dengan logat Betawi.
Saat ini, ada 30 murid tingkat TK dan SD yang belajar di Sekolah Pelangi setiap Sabtu sore. Pengajarnya terdiri atas tujuh orang yang tidak semuanya beragama sama. Mereka mengajar secara ikhlas tanpa bayaran sama sekali demi generasi mendatang yang lebih toleran.
Namun, maksud baik tidak selalu disambut baik. Ati menceritakan, tetaplah ada kelompok kepentingan yang curiga dengan kegiatan Sekolah Pelangi. "Mereka sampai mengirim orang untuk mengawasi kami mengajar," tutur Ati kesal.
Psikolog Luki Arinta berpendapat, promosi tentang keberagaman, terutama kepada anak- anak, menuntut keterlibatan semua pihak. Pasalnya, pemahaman anak-anak dibentuk oleh lingkungan di sekitarnya, mulai dari orangtua, sekolah, media massa, dan budaya.
Mereka adalah anak-anak kita, anak-anak Indonesia.
Sumber: Kompas.com

Indonesia
English
Print
Email
Comment
Share