Berita
Kendari-wahidinstitute.org. Sebagai salah satu langkah merespons gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia, the Wahid Institute (WI) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar Seminar Nasional "Pencegahan Terorisme Berbasis Kearifan Lokal Sulawesi Tenggara". Seminar yang akan dihadiri sekitar 150-an peserta dari unsur pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh muda, politisi, akademisi dan umum ini digelar Rabu pagi (25/07) di Swiss-Belhotel di Jalan Edi Sabara Kendari, Sulawesi Tenggara.
Di samping seminar, kegiatan ini juga dirangkai dengan rapat koordinasi dan pembentukan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), wadah yang diisi para pemangku kepentingan dalam pencegahan terorisme, mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, kejaksaan, tokoh agama, hingga tokoh lokal. Rapat digelar sehari sebelum seminar, yakni Selasa (24/7) di lokasi yang sama.
Untuk memaksimal sosialiasi kegiatan ini, pada Selasa malam akan digelar pula talkshow interaktif di Kendari TV. Menghadirkan Kepala BNPT, Gubernur Sulawesi Tenggara, dan Direktur WI.
Pencegahan terorisme berbasis kearifan lokal dinilai langkah kultural strategis dan langsung mengarah pada perubahan kesadaran dan pola pikir kelompok sasaran. Strategi ini mau tak mau membutuhkan partisipasi seluas mungkin masyarakat. "Forum ini diharapkan menjadi titik awal dalam melakukan kesepahaman dalam merespons isu radikalisme di Sulawesi Tenggara," terang Badrus Samsul Fata peneliti WI yang juga panitia acara tersebut kepada wahidinstitute.org, Selasa siang (23/07).
Namun begitu, diakui pula jika akar radikalisme tidak saja soal ideologi tapu juga akumulasi dari berbagai problem seperti problem ekonomi dan sosial, penegakan hukum yang adil, transparan, tak memihak dan cepat terhadap semua pelaku kekerasan. "Koordinasi ini diharapkan memunculkan kesamaan pandangan dan langkah untuk secara bersama-sama melakukan penanggulangan terhadap radikalisme dan terorisme khususnya dalam bidang pencegahan dan rehabilitasi," terangnya. (AMDJ)

Indonesia
English
Print
Email
Comment
Share