Berita
Bukan Sekedar Tak Ada Perang, Tapi Juga Jaminan Keadilan
Jakarta-thewahidinstitute.org. Ketika menjelaskan peran Indonesia sebagai poros muslim moderat dunia, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur banyak membicarakan kiprah Nahdlatul Ulama, ormas keagamaan terbesar Tanah Air, dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Mantan Ketua Umum PBNU ini juga bercerita bagaimana tokoh NU dan nasional pada masa-masa awal kemerdekaan membincang isu Islam dan kebangsaan secara serius dan mendalam. Diskusi itu berlangsung antara Haji Oemar Sahid Tjokroaminoto dan dua sepupunya KH Hasyim Asy'ari dan KH A Wahab Chasbullah, dua tokoh NU. Diskusi ini biasanya berlangsung bakda Zuhur dan usai sebelum Magrib. Selain ketiganya, Soekarno, kelak menjadi Presiden Indonesia pertama dan juga menantu Oemar Sahid, juga ikut terlibat di dalamnya.
Dalam Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935, NU berpandangan bahwa umat Islam tak berkewajiban mendirikan negara Islam. Sikap ini kemudian memperkuat perumusan Pancasila dan Proklamsi kemerdekaan Indonesia ."Nasionalisme adalah dasar pendirian bangsa Indonesia," tegas Gus Dur.
Terkait isu fundamentalisme Gus Dur juga menegaskan pandangannya yang demokratis. Kaum fundamentalis, kata Gus Dur, sesungguhnya tak boleh dianggap sebagai musuh yang mesti diperangi. Sebab, memeranginya sama artinya keluar dari ajaran agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan. "Kita justru harus mengajaknya berdiskusi," kata Gus Dur. Gus Dur bahkan mengutip sebuah hadis "Barang siapa yang mengkafirkan sauradara muslimnya, maka sesungguhnya telah kafirlah dia".
Demikian pandangan Gus Dur yang mengemuka dalam Dialog Bersama Kardinal Jean-Louis Tauran dan Abdurrahman Wahid bertajuk "Indonesia: Center of Moderate Muslims in The World", di ruang pertemuan The Wahid Institute Jakarta Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta, Kamis (24/11/2009) .
Kardinal Jean-Louis Tauran adalah President of the Pontifical Council for Interreligious Dialogue, Gereja Vatikan, Roma Italia. Pria kelahiran 5 April 1943 di Bordeaux, Prancis, ini sengaja mengunjungi The Wahid Institute sebagai salah satu tujuan dalam lawatannya selama di Tanah Air untuk berdiskusi terkait isu dialog antar agama dengan sejumlah aktivis pegiat toleransi dan pimpinan media massa.
Dalam sambutannya, Kardinal Tauran mengungkapkan filosofi tentang perdamaian yang juga dasar pijakan Vatikan. Perdamaian, katanya, bukan sekedar karena tak adanya situasi perang, namun lebih jauh bermakna perlindungan atau jaminan dan keadilan. Di dalamnya ada tiga fondasi yang tak bisa dilepaskan satu sama lain: toleransi (tolerance); saling menghormati (mutual respectness),Kerjasama antar pemeluk agama (cooperation).
Menjawab pertanyaan Ulil Abshar Abdalla, salah seorang peserta dialog yang juga dikenal sebagai intelektual muda NU dan akan mencalonkan menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, Tauran menjelaskan. Salah satu problem yang menyebabkan terjadinya perlakuan buruk terhadap umat Islam adalah soal kekurangmengertian masyarakat Eropa terhadap Islam. Selain itu realitas sebagian besar muslim yang berprofesi sebagai pekerja juga menjadi hambatan lain. Karena itu dirinya mendorong agar masyarakat muslim juga bisa berkiprah lebih luas di bidang pendidikan, misalnya dengan melahirkan para profesor.
Acara yang berlangsung selama dua jam ini dipandu Rosihana Silalahi, presenter SCTV, dan dihadiri berbagai perwakilan dari Departemen Luar Negeri Indonesia, tokoh agama, intelektual muda, politisi, dan LSM/Ormas dengan latar keagamaan dan beberapa wartawan media cetak dan elektronik.
Dalam sambutannya selakuk Direktur The Wahid Institute, Yenny Zannuba Wahid berterima kasih atas kunjungan Cardinal Tauran ke lembaganya. Yenny menjelaskan, betapapun dialog antaragama satu forum yang selalu harus dibina, baik dilingkup internal Islam maupun antarumat beragama, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar dunia yang moderat.
Di akhir diskusi Cardinal Tauran juga mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Adha" yang jatuh besok Jumat, 27 November 2009 (BSF & AMDJ).

Indonesia
English
Print
Email
Comment
Share