Berita
Selasa, 15 Desember 2009 11:48
SEMARANG – Hubungan antarumat beragama yang ingin dibangun di Jawa Tengah belum sepenuhnya mulus. Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang masih menemukan adanya sikap saling curiga dalam upaya terjalinnya hubungan antaraumat beragama itu.
“Kasus nasi murah bulan puasa lalu yang diselenggarakan GKJ Manahan Solo,menjadi cermin,betapa sikap saling curiga masih terus terpelihara,” ungkap Direkture LSA Semarang Tedi Kholiludin dalam diskusi dan launching Laporan Kebebasan Beragama di Jawa Tengah 2009, di Kantor PWNU Jateng kemarin. Tedi mencontohkan, pela-k-sanaan kegiatan sosial yang digelar di Gereja, dituding menyimpan rencana untuk kegiatan keagamaan, sehingga kegiatan itu sempat ditutup sementara. Padahal, tujuan dari kegiatan tersebut murni sosial.
“Beruntung, setelah dilakukan dialog program itu, bisa dibuka kembali karena semua kelompok LSM yang ada di Surakarta dan sekitarnya bahu membahu membangun persaudaraan atas dasar toleransi dan kerukunan,”katanya. Pembicara lain,Wakil Kepala Redaksi Harian Seputar Indonesia Jawa Tengah Khusnul Huda tak menampik, selama ini, apapun kejadian yang terkait dalam masalah agama, apalagi yang mengandung unsur konflik,atau ”berbeda”akan dianggap sebagai sesuatu yang menarik dan layak diberitakan. “Sebab setidaknya, kejadian tersebut akan mengandung tiga unsur di mana kejadian dapat layak diberitakan, konflik, proximit y dan significant. Apalagi jika kemudian hal tersebut terkait dengan tokoh besar (prominance) ,”paparnya.
Hanya saja,menurutnya, media bukan entitas yang sepenuhnya otonom dan netral. Banyak faktor memengaruhi, seperti faktor individu wartawan, organisasi media, sumber berita, sumber penghasilan media, dan ideologi media dan wartawan yang melakukan peliputan. Pemberitaan yang berkait dengan agama, dipengaruhi pula oleh bingkai bersifat keagamaan. Banyak faktor yang memengaruhi mengapa jurnalisme damai dan pemberitaan yang objektif sulit terwujud,meski upaya ke arah sana terus dilakukan. “Langkah lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pencerdasan masyarakat dalam mencerna informasi yang mereka terima, termasuk informasi dari media massa.
Dengan begitu, masyarakat tidak rentan terhadap isu dan tidak mudah diprovokasi,” tegasnya. Pembicara lain Prof Dr Mujahirin Thohir membenarkan penjelasan Khusnul Huda. (muh slamet)
Sumber: seputar-indonesia.com | Tuesday, 15 December 2009
“Kasus nasi murah bulan puasa lalu yang diselenggarakan GKJ Manahan Solo,menjadi cermin,betapa sikap saling curiga masih terus terpelihara,” ungkap Direkture LSA Semarang Tedi Kholiludin dalam diskusi dan launching Laporan Kebebasan Beragama di Jawa Tengah 2009, di Kantor PWNU Jateng kemarin. Tedi mencontohkan, pela-k-sanaan kegiatan sosial yang digelar di Gereja, dituding menyimpan rencana untuk kegiatan keagamaan, sehingga kegiatan itu sempat ditutup sementara. Padahal, tujuan dari kegiatan tersebut murni sosial.
“Beruntung, setelah dilakukan dialog program itu, bisa dibuka kembali karena semua kelompok LSM yang ada di Surakarta dan sekitarnya bahu membahu membangun persaudaraan atas dasar toleransi dan kerukunan,”katanya. Pembicara lain,Wakil Kepala Redaksi Harian Seputar Indonesia Jawa Tengah Khusnul Huda tak menampik, selama ini, apapun kejadian yang terkait dalam masalah agama, apalagi yang mengandung unsur konflik,atau ”berbeda”akan dianggap sebagai sesuatu yang menarik dan layak diberitakan. “Sebab setidaknya, kejadian tersebut akan mengandung tiga unsur di mana kejadian dapat layak diberitakan, konflik, proximit y dan significant. Apalagi jika kemudian hal tersebut terkait dengan tokoh besar (prominance) ,”paparnya.
Hanya saja,menurutnya, media bukan entitas yang sepenuhnya otonom dan netral. Banyak faktor memengaruhi, seperti faktor individu wartawan, organisasi media, sumber berita, sumber penghasilan media, dan ideologi media dan wartawan yang melakukan peliputan. Pemberitaan yang berkait dengan agama, dipengaruhi pula oleh bingkai bersifat keagamaan. Banyak faktor yang memengaruhi mengapa jurnalisme damai dan pemberitaan yang objektif sulit terwujud,meski upaya ke arah sana terus dilakukan. “Langkah lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pencerdasan masyarakat dalam mencerna informasi yang mereka terima, termasuk informasi dari media massa.
Dengan begitu, masyarakat tidak rentan terhadap isu dan tidak mudah diprovokasi,” tegasnya. Pembicara lain Prof Dr Mujahirin Thohir membenarkan penjelasan Khusnul Huda. (muh slamet)
Sumber: seputar-indonesia.com | Tuesday, 15 December 2009

Indonesia
English
Print
Email
Comment
Share