Dokumen

Jum'at, 20 November 2009 12:04

Monthly Report edisi kali ini (masih) diwarnai dengan maraknya penyesatan di mana-mana. Mulai dari Santriloka, aliran Sukarno, Wahidiyah, Amaq Bakrie hingga Bahai. Seperti kasus-kasus sebelumnya, sang tertuduh dilaporkan kepada tokoh masyarakat atau aparat desa. Responnya bisa beragam; dibuatkan fatwa oleh MUI, diamankan polisi lalu alirannya dibubarkan Bakor­pakem. Beberapa kasus berakhir di penga­dilan. Formula yang dipakai berulang-ulang pa­­da kenyataannya ­menunjukkan reaksi yang sama berulangnya.

Kasus lainnya adalah berkaitan dengan isu-isu moralitas. Miyabi datang, publik terce­ngang. Beramai-ramai orang menolak artis film dewasa keturunan Kanada -Perancis-Jepang ini, termasuk MUI.  Selain Miyabi, muncul kontroversi soal peluncuran klub poligami Global Ikh­wan di Ban­dung. Klub yang digawangi ormas eks Darul Arqam (Malaysia) ini bercita-cita ­memasyarakatkan poligami yang ‘baik dan ­benar', yang sesuai syariat Islam. Dan benar saja, ia didemo banyak orang; aktivis perempu­an sampai MUI karena membuat perkara poliga­mi menjadi perkara membanggakan, padahal ia menyakiti perempuan. Tapi kali ini MUI tak sampai (menghimbau) untuk melarang, hanya mengecam saja. Sungguh disayangkan.

Isu khilafah juga menjadi sorotan redaksi kali ini. Sebagaimana diketahui publik, beberapa waktu lalu diselenggarakan Kongres Mahasiswa Islam Indonesia yang di antaranya mengagendakan tegaknya khilafah Islamiyah di Indonesia. Memang ini bukan preseden pertama-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi yang paling ­getolmempromosikan ide khilafah Islamiyah pernah menggelar apel lebih besar di Gelora Bung Karno (GBK). Tetapi yang memprihatinkan, acara kali ini justru didukung-sebagaimana tertulis dalam pamfletnya-oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemmennegpora) dan universitas negeri sekaliber Institut Pertanian Bogor (IPB). Berita lainnya dapat disimak di buletin setebal 12 halaman ini. Akhirnya, selamat membaca. Selanjutnya