Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Dokumen

Selasa, 17 Januari 2012 03:12

Di penghujung tahun ini kita berharap kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan kita segera membaik. Sayangnya, hal ini serasa jauh panggang dari api mengingat kejadian akhir-akhir ini. Pemenggalan kepala Patung Maria di Goa Maria Tawangmangu adalah yang paling menyayat hati. Suasana kondusif yang sudah terbina sejak puluhan tahun dirusak oleh orang tak bertanggung jawab. Kejahatannya bukan saja merusak situs ziarah, tetapi juga "melukai rasa keagamaan umat Katolik" sebagaimana diungkapkan oleh Uskup Agung Semarang Mgr Johanes Pujisumarta Pr. Kelukaan ini tentunya akan bertambah dalam mengingat Hari Raya Natal segera datang.

Peristiwa lainnya adalah soal aliran sesat. Di beberapa tempat, seperti di Lombok, aparat justru berkongsi dengan berbagai aparat membubarkan aliran yang dinilai sesat. Kongsi ini sungguh aneh mengingat aparat seharusnya netral memberikan perlindungan kepada semua warga, baik yang dicap penganut aliran sesat maupun bukan. Mereka mengamankan pengikut aliran ini, dengan dalil perlindungan, tetapi kenyataannya mereka kemudian dimintai keterangan sehubungan dengan aktivitas keagamannya.

Di luar segala peristiwa tragis nan miris itu, kita masih memiliki kewajiban memelihara sikap optimis. Kita berharap putusan kasus perusakan dan penghasutan oleh FPI Sulsel merupakan pertimbangan yang memperhitungkan keadilan masyarakat. Selain itu, surat dari Amensty International soal Ahmadiyah kiranya dapat membawa ‘perubahan' dalam arah kebijakan KBB kita. Setidaknya para pengambil kebijakan itu, termasuk Menag (Menteri Agama) dan Mendagri (Menteri Dalam Negeri), untuk lebih memiliki padangan yang ramah minoritas. Bukan favoritisme terhadap golongan mayoritas tertentu, apalagi "disemangati" oleh tekanan massa tertentu. Selengkapnya MRORI 38