Panggulan Menonton | Nobar Film Habibi & Ainun serta Mata Tertutup; Pembacaan Puisi; Musik Akustik, dan Pembagian Doorprize | Rabu, 19 Juni 2013, pukul 19.00 – Selesai | Jl. Subulussalam No. 34 RT 01/04 Panggulan, Pengasinan Kecamatan Sawangan Depok | Kontak (021) 9126 5558 Nurdin 08788188499



Opini

Selasa, 26 Mei 2009 02:50
DAVID MILIBAND MP*

Semua orang berbicara mengenai reformasi dalam politik Inggris. Hal tersebut benar adanya. Integritas institusi demokrasi kita telah dirusak secara hebat. Kebutuhan untuk pembaharuan sangat mendesak. Karena alasan-alasan tersebutlah, lebih ironis lagi bahwa kasus saya hari ini adalah mengenai pentingnya politik. Saya ingin berargumentasi bahwa pertanyaan mengenai kebijakan luar negeri yang mempersatukan ngara ini dan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim menghadirkan ide mengenai saling menghormati yang dilaksanakan melalui politik.

Banyak kaum terpelajar berdiri di ruangan ini dan berbicara mengenai nilai-nilai yang dibagi diantara agama-agama Abraham. Hal tersebut bukanlah tujuan saya hari ini. Saya adalah seorang politisi, bukan pengkhotbah atau cendikiawan religius. Saya ingin berbicara, saya harap dalam semangat kerendahan hati dan penghormatan, dari sudut pandanga saya sebagai Menteri Luar Negeri, mengenai proses politik dalam membangun koalisi dan mendapatkan persetujuan di luar negeri untuk tujuan politik luar negeri. Pertanyaan ini tidak hanya timbul dalam hubungan kita dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi hari ini saya ingin menggali bagaimana kami pemerintah Inggris, bekerja dengan mereka, negara-negara Muslim, pemerintah dan masyarakatnya, yang nilai-nilainya mungkin tidak kita bagi seluruhnya. Pidato ini tidak berbicara mengenai bagaimana kita menghadapi isu ini di dalam negeri.

Presiden Obama menjelaskan bahwa ada sebuah masalah. Beliau berkata beberapa minggu yang lalu: "Amerika bukan dan tidak akan pernah berperang melawan Islam". Bulan depan beliau akan berbicara mengenai masalah ini dalam pidato penting di Cairo. Fakta bahwa beliau merasa perlu untuk berbicara dan melakukan hal ini, dan penerimaan positif yang beliau dapatkan diseluruh dunia atas determinasi dan keberanian beliau, menyingkap dalamnya perbedaan dan ketidakpercayaan terhadap dunia barat yang timbul pada periode pasca 9/11. Koalisi kami terlalu sempit dan persetujuan jauh dari disepakati.

Untuk memperluas koalisi dan memenangkan persetujuan, kita perlu memahami dunia Islam dengan lebih baik, atau kita akan menghadapi resiko memperlemah argumen kita sendiri, seperti yang sering saya lakukan ketika menggunakan label ‘moderat' dan ‘ekstrimis'; kita perlu berpegang teguh pada nilai-nilai kita dan mendukung mereka yang ingin mengaplikasikannya, atau kita akan bersalah atas kemunafikan; dan kita perlu membagi upaya untuk mengatasi kedukaan, sosial-ekonomi dan politik, yang dimaksudkan untuk merendahkan kaum Muslim, dan begitulah faktanya.

Argumen saya berawal dari pengakuan terhadap perbedaan. Hal tersebut berdasar pada keyakinan bahwa tidak akan pernah ada jawaban atas pertanyaan bagaimana kita harus hidup. Saya percaya ada nilai-nilai universal yang dapat dilacak melalui kebudayaan dan keyakinan yang beragam. Saya percaya ada hak asasi manusia dasar yang harus diawasi oleh setiap pemerintahan dan setiap individu. Tetapi seperti argumentasi yang telah dikemukakan oleh Perdana Menteri dengan kuat, bahwa ada komunitas global dimana nilai-nilai dan hak-hak universal masih menyediakan tempat untuk cara hidup yang sangat beragam dan berbeda.

Tantangan kita adalah untuk memahami bahwa ketika tidak ada pola tunggal untuk kehidupan yang baik, pasti ada pola - dan pola yang lebih baik dari yang kita miliki saat ini - untuk orang-orang dengan pandangan yang berbeda, yang berasal dari sistem kepercayan yang beragam, untuk bekerja bersama-sama.

Sebagai Menteri Luar Negeri Inggris, merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk mewakili negara dengan keragaman yang luar biasa dan sejarah yang mengagumkan. Tetapi hal tersebut juga untuk meluruskan prasangka yang ditimbulkan oleh sejarah Inggris, tidak hanya di negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi dimana saja. Keputusan yang diambil bertahun-tahun yang lalu di King Charles Street masih dapat dirasakan di bentang darat Timur Tengah dan Asia Selatan. Kastil bekas perang salib yang rusak masih berdiri sebagai peringatan yang tegas mengenai kekerasan religius pada abad pertengahan. Garis yang digambar di peta oleh kekuatan Kolonial diikuti oleh, beserta hal lainnya, kegagalan - yang harus dikatakan tidak hanya kesalahan kami - untuk membentuk dua negara di Palestina. Baru-baru ini, invasi Irak, dan peristiwa sesudahnya, membangkitkan kepahitan, ketidakpercayaan, dan kekecewaan. Ketika orang mendengar mengenai Inggris, seringkali mereka memikirkan hal-hal tersebut.

Peristiwa-peristiwa ini diasosiasikan dengan sejarah hubungan antara Eropa dan dunia Islam yang telah ditandai oleh penjajahan, konflik, dan kolonialisme. Tetapi ada cerita lain yang dapat diceritakan. Cerita tersebut tidak menghapus konflik, tetapi membentuk naratif yang berbeda.

Sejarah tersebut bukan mengenai konflik atau konfrontasi, bahkan tidak mengenai koeksistensi atau toleransi, tetapi mengenai kontribusi pertukaran dan mutal. Sejarah abad ke-17 di Iran - seperti yang secara impresif dituturkan dalam pameran Museum Inggris baru-baru ini. Pada abad ke-13 di Andalusia, Norman Sicily atau pencerahan Eropa, mengenai St John dari Damaskus, penasihat Kristen bagi pemimpin Umayyad, mengenai dialog antara Kaisar Byzantine dan Kalifah Arab dan ditemukannya pemikiran Yunani oleh cendikiawan Muslim awal. Sejarah ini bercerita mengenai keterbukaan, keberagaman dan pencapaian. Mengenai berbagai kebudayaan yang bersatu dan belajar satu sama lain.

Pendahulu saya Castlereagh pernah berkata, anda tidak dapat mengajarkan moralitas dengan sebilah pedang. Hal tersebut mungkin lebih tepat saat ini daripada dahulu. Apa yang ingin saya argumentasikan saat ini adalah bahwa tugas utama untuk kebijakan luar negeri adalah untuk menciptakan arena politik, nasional dan internasional, dimana nilai-nilai yang berbeda dapat diargumentasikan, dan dalam proses perubahan terhadap marjinalisasi kekerasan; dan bahaya utama adalah kegagalan untuk menciptakan arena tersebut, dengan konsekuensi memperkuat mereka yang melakukan kekerasan.

Dasar dari argumen saya adalah bahwa keamanan di dunia saat ini tidak dapat dijamin oleh negara adikuasa semata, atau bahkan sejumlah negara yang kuat. Ancaman perubahan iklim, terorisme, pandemik, dan krisis ekonomi terlalu besar dan beragam. Maka dari itu keamanan tergantung pada dua hal yang tidak terlepaskan satu sama lain. Pertama, kita memerlukan koalisi negara dan gerakan politik yang seluas mungkin. Hal tersebut berarti siap untuk mendukung rekonsiliasi dengan organisasi yang nilai-nilainya tidak sama dengan kita tetapi siap untuk mencapai kepentingan yang sama.

Kedua, kita perlu persetujuan dari rakyat. Pada abad yang lalu, persekutuan dibentuk oleh monarki, perjanjian ditandatangani oleh raja dan bangsawan - atau tidak - oleh elit penguasa. Tetapi kekuasaan pada abad modern telah keluar dari genggaman erat tersebut.

Dalam menyusun kedua tujuan tersebut - membangun koalisi dan memenangkan konsensus - ketegangan antara keduanya sangat nyata. Koalisi paling luas adalah, mungkin, termasuk kelompok yang tujuannya tidak sama dengan kita, nilai-nilainya kita anggap tercela, metodenya kita ragukan. Tetapi tidak mungkin untuk memenangkan kesepakatan masyarakat jika kita tidak menunjukkan konsistensi dan keyakinan dalam penerapan nilai-nilai kita. Penerapan nilai-nilai yang terus-menerus secara kaku tentunya akan mengucilkan organisasi-organisasi yang tanpa mereka kemajuan tidak mungkin terjadi. Namun jika kita terlibat dengan semua pihak yang terkait, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kita atau mereka, kita terbuka terhadap biaya dari realisme yang paling murni.

Jalan melewati ketegangan berada dalam komitmen kita terhadap politik dan penolakan akan kekerasan. Adalah selalu terjadi ketika kebisuan menyetujui kekerasan ditarik - demi politik - tindakan diplomasi memiliki kesempatan untuk diaplikasikan. Bahkan di negara yang tidak demokratis, aksi pemerintah selalu dibatasi oleh tuntutan dari rakyat. Keyakinan mengenai politik ini, merupakan hal yang mendasar. Kehormatan politik dimuati oleh negosiasi konflik melalui pembicaraan, penggantian perseteruan oleh kompromi dan kekuatan oleh persuasi.

Hal ini bukan merupakan dorongan rohani. Politik dimulai dari rakyat, dimana kita berbagi dunia, ketidaksetujuan, kadangkala dalam masalah yang mendasar. Diantara sekular liberal dan orang-orang yang imannya tidak dapat dipisahkan dari politik mereka, tidak ada asimilasi yang mudah. Tidak ada juga jalan untuk menghakimi siapa yang "benar". Hanya ada dialog dan pencarian fondasi yang sama. Koalisi dapat dan harus luas tetapi koalisi hanya dapat dibentuk diatas dasar komitmen terhadap politik dan penolakan kekerasan. (Bersambung)

* Menteri Luar Negeri Inggris

(Tulisan ini merupakan teks pidato di Pusat Studi Islam Oxford, 21 Mei 2009. Teks versi bahasa Inggris bisa diperoleh di www.blogs.fco.gov.uk)

Foto: www.blogs.fco.gov.uk