Opini
Oleh Ahmad Suaedy
Terpilihnya Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat yang menjanjikan dialog dan persuasi untuk penyelesaian berbagai masalah dunia, khususnya dengan dunia Islam, diduga akan mempengaruhi seluruh peta dunia. Fundamentalisme adalah salah satu hal penting untuk dilihat dalam perubahan tersebut mengingat kata ini memperoleh perhatian yang sangat besar di era presiden George W. Bush Jr.
Sejak peristiwa pemboman WTC di New York 9/11 tahun 2001 ancaman dunia dalam persepsi AS yang berpengaruh besar terhadap dunia lainnya sepertinya terfokus pada dunia Islam, khususnya setelah ditemukan fakta bahwa para pelaku pemboman tersebut terkait dengan Taliban di Afganistan. Sejak itu ada dua arus besar yang saling bertentangan. Di satu pihak kian kerasnya pendekatan AS dalam memerangi fundamentalisme dan menguatnya kekuatiran akan fundamentalisme Islam itu sendiri dalam persepsi masyarakat dunia pada umumnya.
Di lain pihak, pula makin luasnya pengaruh gerakan fundamentralisme itu sendiri di berbagai belahan dunia serta terbangunnya simpati masyarakat terhadap gerakan mereka karena dianggap sebagai perlawanan atas dominasi AS yang kini menjadi satu-satunya superpower. Krisis global dan hancurnya perekonomian AS di ujung akhir kekuasaan George Bush mungkin memberi pengaruh lebih besar terhadap perubahan pandangan dan strategi AS ini dengan terpilihnya Obama itu, namun apa kemungkinan pengaruh pandangan dan strategi itu lebih penting karena akan memberi efek langsung terhadap kehidupan kita di Indoensia. Tulisan ini akan coba lebih fokus pada yang terakhir ini.
Secara generik, dalam pemahaman agama, fundamentalisme sesugguhnya ada dalam semua agama. Sebuah keinginan untuk mempraktikkan agama sedekat mungkin dengan bunyi teks kitab suci. Di dalam Islam sendiri, aliran seperti itu telah lahir pada abad pertama hijriyah. Dalam sejarah pemikiran Islam tercatat aliran adh-Dhahiri yang berarti "lahir" atau "lahiriyah" atau "tekstual". Yaitu aliran pemikiran agama yang memahami agama dari "lahir"nya (bunyi teks). Aliran pemikiran inilah tampaknya yang menjadi akar dari pemhaman agama yang fundamentalistik, seperti kemudian dikembangkan oleh Ibn Taymiyyah dan Ibn Abd Wahab, pendiri aliran Wahabi. Dalam gerakan politik pemahaman seperti ini juga sudah lahir sejak abad awal Islam. Yaitu aliran Khawarij yang hendak menerapkan hukum Islam secara benar-benar tesktual.
Namun di dunia modern, fundamentalisme menampakkan karakteristik dan agenda yang agak berbeda. Secara politik ia bermula dari keinginan untuk membebaskan diri dari kolonialisme di mana agama menjadi salah satu alat mobilisasi yang sangat penting. Hal ini terjadi mulai dari gerakan yang bersifat lokal seperti pemberontakan petani di Banten di akhir abad ke-19 seperti ditulis Sartono Kartodirdjo, hingga yang bersifat nasional dan regional, seperti pan-Arabisme dan pan-Islamisme di masa lalu. Pada perjalanannya, fundamentalisme modern yang berhadapan dengan dominasi Barat megalami evolusinya sendiri dalam karakteristik dan agenda-agendanya.
Dalam perspektif paskakolonial, maka fundamentalisme tampaknya merupakan bagian dari tuntutan masyarakat lokal untuk disejajarkan dengan masyarakat yang disebut modern, juga masyarakat Timur atas Barat. Dengan demikian, di satu pihak gerakan demikian sangat tergantung dari refleksi situasi atas yang melingkupi bagi para pelakunya, dan di lain pihak juga tergantung dari kondisi dan strategi yang di sekelilingnya.
Di era perang dingin, fundamentalisme Islam menampakkan wajah yang plural. Ada fundamentalisme yang berseberagangan dengan arus global dan kebijakan AS, baik dalam lingkup nasional maupun global, seperti terjadi di banyak negara termasuk di Indonesia. Namun tidak sedikit gerakan seperti itu yang berkelindan dengan misi dan kepentingan AS seperti terjadi di Afganistan atas Muhajihin dan Taliban untuk merebut dan mempertahankan tapal batas negara dengan Uni Soviet ketika itu. Namun runtuhnya Uni Soviet membuat peta berubah secara drastis. Gerakan yang semula dibekingi AS justru ditinggalkan dan segera berubah menjadi musuh utama.
Dari perspektif demikian, dukungan AS dan karena itu juga arus global terhadap kelompok seperti itu belum tentu bertujuan untuk menyelesaikan berbagai masalah domestik dan dunia, misalnya untuk kebebasan dan perdamaian -seperti sering diklaim oleh para pemimpin AS-melainkan boleh jadi semata-mata untuk mengamankan kepentingan AS dan kapitalisme global. Strategi baru yang ditawarkan Barack Obama tidak lepas dari tujuan ini. Pendekatan baru yang ditawarkan Obama belum tentu dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dunia menuju kebebasan dan perdamaian, melainkan untuk mengamankan kepentingan AS yang terdesak akibat strategi yang dikembangkan Bush sebelumnya.
Namun strategi baru itu tidak pelak akan mengubah seluruh peta politik di tingkat global maupun nasional mengingat pengaruh AS yang masih sangat besar di dunia sebagai satu-satunya negara adidaya saat ini. Beberapa tahun lalu, sebuah lembaga think thanksangat berpengaruh di AS yang terkenal konservatif Rand Corporation mengeluarkan hasil analisisnya, bahwa yang paling bahaya mengancam kepentingan AS saat itu, termasuk di Indonesia, adalah bersatunya fundamentalisme agama dalam hal ini Islam dengan gerakan antiglobalisasi. Kekutaan seperti itu akan mampu menggunakan agama sebagai alat memobilisasi massa untuk menentang kebijakan dan kepentingan AS, meskipun fakta itu mungkin tidak terbukti, paling tidak di Indonesia.
Diskusi dan usulan dari banyak pihak agar AS mengubah pendekatan terhadap fundamentalisme khususnya Islam sudah terjadi jauh sebelum Obama terpilih menjadi presiden AS, bahkan datang dari dalam pemerintahan Bush sendiri. Namun hal itu benar-benar menunjukkan kemungkinan terealisasi setelah Obama naik. Indikasi perubahan itu sesungguhnya juga sudah banyak terjadi di berbagai lapangan kehidupan sebagai proses alamiah terutama dalam lapangan bisnis dan juga politik. Berbagai elemen di dalam keyakinan agama yang semula dianggap sebagai elemen dari fundamentalisme terserap dan saling menyesuaikan dengan kepentingan kapitalisme.
Kata yang paling tepat untuk menggambarkan perubahan ini barangkali adalah sebuah judul tulisan dari Prof. Bob Hefner di tahun 1990 ketika Suharto meresmikan Bank Muamalat di Indonesia, yaitu Islamizing capitalism. Yaitu titik temu dan saling serap antarelemen dalam Islam yang semula berhadapan dengan kapitalisme tiba-tiba saling bertemu dan bekerjasama. Kini bank-bank global berlomba untuk mendirikan gerai Bank Syariah di berbagai negara. Dalam lapangan intertainmen dan fashion atau dunia mode lebih dahsyat lagi semisal dalam dunia sinetron dan mode pakaian.
Menonton sinetron bernuansa agama kini nyaris menjadi semacam salah satu menu "ritual" dan "spiritual" bagi kalangan tertentu. Kerudung yang bernuansa fashion pada level tertentu kini menjadi kombinasi dahsyat antara "standar moral Islam" dan kapitalisme. Tetapi baik dalam perbankan, intertainmen maupun fashion, jangan bertanya efek keadilan dan pembebasan terhadap masyarakat banyak, terlebih efek keadilan distribusi ekonomi dan meningkatnya standar hidup bagi orang miskin. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa saling serap antara elemen Islam dengan kapitalisme sesungguhnya tidak mengubah watak kapitalisme itu sendiri, melainkan sebaliknya bisa dikatakan justeru mengubah Islam menjadi berwatak kapitalistik.
Dalam lapangan politik, akibat demokratisasi dan keterbukaan elemen-elemen fundamentalistik yang semula terkonsentrasi di dalam gerakan kelompok tertentu akibat disudutkan oleh kebijakan politik, muncul dan tersebar di banyak lapangan kehidupan, politik, eknomi dan kebudayaan, baik watak, agenda maupun aktivisnya. Jangan heran jika partai politik nasionalis di Indonesia tiba-tiba menjadi sponsor utama bagi elemen dan agenda fundamentaslistik dalam proses pengambilan keputusuan dan penyusunan regulasi. Sebaliknya bagi para pengambil keputusan, tuntutan seperti ini tidak lagi ditempatkan sebagai elemen fundamentlistik yang mengancam demokrasi melainkan ditempatkan sebagai gerakan politik biasa yang bisa dinegosiasikan. Kasus berbagai regulasi bernuansa agama dan SKB tentang Ahmadiyah menunjukkan hal itu.
Hal yang sama akan terjadi pada tingkat global. Terorisme memang akan tetap menjadi musuh utama bersama oleh banyak negara terutama AS tetapi unsur-unsur yang semula dianggap fundamentalistik yang dianggap mengancam kepentingan AS akan berubah. Hal ini tidak hanya akan terjadi pada proses alamiyah seperti pada perbankan dan dunia fashion melainkan bukan tidak mungkin akan menjadi bagian dari strategi politik dan ekonomi. Bayangkanlah "dinar", yaitu alat tukar tradisional Arab yang diklaim sebagai alat tukar Islami, yang kini menjadi obsesi dari Hizbut Tahrir dibeli George Soros untuk memperkuat permainan valasnya di lantai bursa, maka dengan cepat akan terjadi Islamizing capitalism dalam lantai bursa seluruh dunia. Tidak ada lagi unsur fundamentalisme di situ kecuali kepentingan pasar.
Disebabkan karena watak gerakan fundamentalisme Islam yang berorientasi formalistik dan simbolik bukan pada esensi semisal pengaruhnya terhadap keadilan distribusi ekonomi dan pemberdayaan orang miskin, maka bukan tidak mungkin titik temu itu akan dianggap sebagai puncak lain dari pencapaian islamisasi. Dengan demikian tidak akan ada penentangan signifikan terhadap transaksi demikian sejuah simbol Islam menjadi bagian dari proses saling serap tersebut.
Strategi Obama, karena sifatnya yang global, tidak bisa dipungkiri akan berpengaruh terhadap Indonesia. Dua hal mungkin akan segera dirasakan di Indonesia. Pertama adalah, meminjam kata-kata yang digemari kalangan NGO, yaitu mainstreaming elemen-elemen fundamentlistik, yang bertentangan secara nyata dengan demokrasi sekalipun, akan menjadi bagian dari proses politik normal. Bukan tidak mungkin, partai yang memiliki jarak cukup jauh secara ideologis dengan agama, Islam khususnya, akan menjadi pejuang utama penerapan elemen fundamentlistik Islam dalam lapangan publik, dalam regulasi maupun kebijakan pemerintahan.
Ini disebabkan karena tersebarnya agenda, watak dan para aktivis fundamentalis ke berbagai lapangan kehidupan politik, ekonomi dan kebudayaan. Karena itu, upaya mempertahankan dan memperjuangkan demokrasi dan kebebasan dari intervensi fundamentistik tidak lagi berhadapan langsung dengan fundamentaslisme sebagai kelompok dan gerakan melainkan berada pada kenyataan dan proses politik dalam keseluruhannya, bahkan mungkin dalam keluarga dan kelompok kecil olahraga.
Kedua, perubahan representasi (shifting representations), yaitu terjadinya perubahan persepsi tentang representasi baik terhadap kelompok yang semula dianggap moderat maupun fundamentalis yang membahayakan kapitalisme maupun suatu kekuasaan tertentu. Kelompok-kelompok yang semula dianggap fundamentalis mungkin akan segera masuk menjadi kelompok moderat dan karena itu ia akan dipertimbangkan sebagai tuntutan politik semata, betatapun tuntutan tersebut bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri. Gejala ini bukan tidak mungkin akan segera meniadakan dan menekan ke bawah permukaan kelompok moderat tradisional digantikan dengan kelompok moderat baru yang semula kelompok fundamentlis.
Dalam waktu yang sama, kapitalisme global dan juga pemerintahan demokrasi di banyak negara akan menciptakan musuh baru dengan label yang sama, fundamentalisme. Kelompok dan gerakan "kiri" yang masih berbahu sosialisme dan gerakan anti globalisasi, paling potensial untuk menempati posisi baru ancaman terhadap kepentingan AS dan segera diikuti menjadi musuh pemerintahan demokrasi di banyak negara. Sementara kelompok yang semula diprediksi oleh Rand Corporation sebagai partner gerakan anti globalisasi akan berpindah posisi menjadi bagian dari kelompok moderat.
Respon yang tinggi terhadap gerak-gerik nuklir Korea Utara oleh AS dan penanganan yang berlebihan terhadap gerakan anti globalisasi dalam berbagai pertemuan internasional yang bersifat global, boleh jadi menunjukkan gejala ini. Ini bersamaan dengan serangan bersenjata bertubi-tubi terhadap kelompok Taliban bersenjata yang masih tersisa di perbatasan Afganistan-Pakistan. Ancaman pemenjaraan terhadap Rizal Ramli yang sesungguhnya tidak memiliki sejarah sosialisme maupun anti globalisasi melainkan hanya mengkritik IMF dan WB sudah cukup bagi pemerintahan neoliberal SBY untuk melakukannya, tampaknya mengindikasikan perubahan arah baru tersebut.
Akhirnya, Pancasila, dengan demikian, akan ditafsirkan sesuai dengan arah baru tersebut.***
*Direktur Eksekutif the Wahid Institute, Jakarta
Tulisan ini merupakan makalah pada Seminar Sehari Pancasila dalam Pusaran Globlalisasi dan Fundamentalisme. Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2009. Diselenggarakan atas kerjasama ANBTI-WI-IGJ, di Gedung Perpustakaan nasional, Jakarta.

Indonesia
English
Print
Email
Comment
Share