Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Opini

Senin, 29 Juni 2009 01:31

Al-Husein N. Madhany*

Sehari sebelum pemilihan presiden AS November tahun lalu, tas saya diperiksa di bandara San Francisco. Saya serahkan SIM saya ke perempuan yang sedang jaga konter lalu saya sebutkan nama saya. Saat dia melihat saya, saya bisa menengarai perasaan khawatir yang ia sembunyikan di balik kesantunan profesionalnya. Saya telah sering kali melihat pemandangan seperti itu sebelumnya.

"Oh maaf," katanya, mengesankan ia meminta maaf atas reaksinya terhadap nama saya.

"Nama depan saya al-Husein, mirip Saddam Hussein," jawab saya, sengaja ingin membuatnya terkejut.

Perempuan itu hanya membalas dengan tatapan kosong dan tertawa kecil dengan gugup. Saya lantas mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang perlu.

Percakapan seperti itu sudah hal biasa dalam hidup saya sejak Perang Teluk pertama hingga saat pemilu tahun lalu. Muslim dulu dipandang oleh kebanyakan orang Amerika sebagai "orang lain" yang menakutkan, bahkan kami berada dalam imajinasi orang-orang sebagai penduduk wilayah abu-abu di balik, katakanlah, Prancis. Kami tak dilihat sebagai tetangga yang hidup, bekerja dan beribadah di lingkungan masyarakat yang sama layaknya warga non-Muslim.

Inti dari cerita tentang kebiasaan antara agen maskapai penerbangan dan pelanggan ini-juga yang menjadi inti sebagian besar pekerjaan saya-adalah untuk menarik perhatian pada kekurangan-kekurangan dalam hubungan antara Muslim Amerika dan warga Amerika lainnya. Karena gambaran Muslim sebagai "orang lain" sedemikian menjalarnya, berinteraksi dengan tetangga mereka yang Muslim menjadi semakin penting bagi orang Amerika. Demikian pula sebaliknya.

Dan pemilu lalu telah membuat perbedaan itu.

Saat saya terbang balik ke San Francisco beberapa hari silam, seorang agen baru lagi-lagi terdiam setelah saya sebutkan nama saya. Namun, saya sudah mengubah kebiasaan saya.

"Nama depan saya al-Husein, mirip Barack Hussein Obama," tutur saya padanya.

Seperti Obama utarakan dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi Al Arabiya, yang berpusat di Dubai, dia mempunyai banyak kerabat yang Muslim, meskipun ia seorang Kristen. Dialah orang Afrika Amerika pertama yang menjadi presiden di AS. Meskipun berbagai rumor selama kampanye pemilu menyebut Obama sebagai seorang Muslim "diam-diam", 68 juta orang Amerika tetap memilihnya dan mengantarkannya ke Kantor Oval (tempat kerja resmi presiden AS).

Sejak hari pemilihan, tetangga dan rekan kerja saya jauh lebih mudah melihat saya sebagai seorang Amerika dibanding sebelumnya. Ini boleh jadi perasaan kami saja sebagai Muslim Amerika, namun ini terus diperteguh oleh pemimpin Amerika itu di awal setiap keterangannya tentang latar belakang Muslim-dan Amerika-yang ia miliki. Obama terus mengungkapkan ke publik bahwa "banyak orang Amerika lainnya yang punya kerabat Muslim, atau telah tinggal di suatu negara mayoritas Muslim. Saya tahu, karena saya salah seorang di antara mereka."

Orang-orang Amerika kini umumnya melihat kaum Muslim dengan sedikit lebih jernih ketimbang sebelumnya. Obama telah membuka ruang bagi orang Amerika untuk bertanya, "Siapa dan di manakah orang-orang Amerika Muslim itu?"

Dan kami, yang telah menjalani hidup yang produktif, meskipun secara umum masih tetap tak terlihat, di Amerika, tengah mengambil kesempatan yang diberikan presiden kami untuk secara kolektif lebih menampakkan diri.

Muslim Amerika kini, lebih dari sebelumnya, berdiri membela Amerika (dan tidak lagi berdiri melawan Amerika). Kami berbuat demikian untuk menjawab seruan presiden kami untuk berbakti pada Amerika, dan orang Amerika, pada waktu hal ini sangat dibutuhkan. Kami amati hal ini terjadi di seluruh penjuru Amerika, contohnya dalam pengadaan klinik kesehatan gratis yang diprakarsai orang-orang Muslim Amerika untuk melayani tetangga mereka, misalnya klinik Umma di Los Angeles atau klinik IMAN di Chicago.

Terpilihnya Obama sebagai presiden telah membuat kami bisa menyulut perbincangan yang selama ini ditakuti oleh orang Amerika: termasuk perbincangan untuk menggali masing-masing keyakinan dan tradisi dengan lebih dulu menanggalkan praduga dan penilaian kita. Obama telah mencontohkan bagaimana perbincangan antariman seperti itu semestinya dimulai: pertama, dengan mengumpulkan para pemuka agama di Amerika-termasuk dari Yahudi, Islam, Katolik dan Hindu-dalam Dewan Penasihat Kemitraan dengan Basis Agama dan Kemitraan dengan Tetangga, dan kedua, dengan memberi peluang bagi Dewan Penasihat ini untuk berfokus pada kebaikan bersama, yang dimulai dengan pengabdian pada Amerika.

Tujuan saya di balik bakti saya pada Amerika dengan bekerja di Patheos-sebuah situs di mana orang-orang bisa terlibat dalam diskusi global tentang agama dan spiritualitas, adalah untuk membantu memajukan perbincangan ini dan, dalam skala yang lebih besar, membangun jembatan di antara sekat-sekat, yang memang terlihat kian menipis, yang memisahkan para pemeluk agama yang berbeda.

Patheos memuat berbagai tulisan terkait pidato Obama di Mesir dari sudut pandang para pemuka agama, termasuk tulisan-tulisan dari tokoh Protestan seperti Daveed Gartenstein-Ross, pengarang My Year inside Radical Islam (Tahun Saat Saya dalam Islam Radikal), tokoh Yahudi seperti Rabbi David Saperstein, dan salah satu Evangelis terkemuka Amerika, Dr. Joel Hunter. Situs ini juga menampilkan belasan tulisan Muslim tentang kunjungan Obama ke Timur Tengah.

Situs tersebut juga menampilkan rubrik Public Square (alun-alun) di mana para pengunjung bisa mempelajari bagaimana tradisi-tradisi agama yang berbeda-agama mereka dan yang lain-memandang isu-isu yang menjadi perhatian bersama seperti perkawinan sejenis, aborsi, mati syahid, atau bahkan pemuka agama.

Orang-orang Amerika telah sampai pada titik di mana kami tak lagi bisa percaya begitu saja pada stereotip-stereotip tentang para penganut agama lain. Ini meniscayakan perbincangan global tentang agama dan spiritualitas dibuat untuk publik, bukan semata demi kebaikan masing-masing individu, tapi juga demi kebaikan kita semua. Seperti kami suka katakan di Patheos, ini cuma soal waktu.

###

* Al-Husein N. Madhany ialah pengelola rubrik Gateways bagian Muslim di Patheos.com, sebuah ajang untuk terlibat dalam dialog global tentang agama dan spiritualitas. Artikel ini ditulis untuk Common Ground News Service (CGNews).

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 26 Juni 2009, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin untuk publikasi.