Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Opini

Selasa, 10 Juli 2012 02:41

Oleh M. Subhi Azhari*

Muslim Abdurrahman atau biasa disapa Kang Muslim telah meninggal dunia. Kehilangan tidak hanya dirasakan oleh anggota keluarga almarhum, tetapi juga para sahabat, kolega dan pengagumnya dari berbagai lapisan masyarakat. Satu lagi cendekiawan sekaligus budayawan muslim pergi untuk selamanya meninggalkan sederet karya dan baktinya untuk bangsa.

Mengenang kepergian Kang Muslim, banyak orang akan tergugah ingatannya kepada Gus Dur yang meninggal dunia pada akhir 2009 lalu. Keduanya adalah sahabat kental yang memiliki banyak kemiripan satu sama lain. Semasa hidup, keduanya seakan tidak terpisahkan karena begitu banyak moment-moment penting yang dialami bangsa ini melibatkan mereka bersama-sama. Meskipun keduanya merepresentasikan dua kultur keislaman mainstream NU dan Muhammadiyah, sebagai intelektual muslim, keduanya berada pada poros pemikiran yang sama. Bahkan, banyak yang menilai jika ingin mengenal pemikiran Gus Dur, maka bacalah tulisan-tulisan Kang Muslim, demikian pula sebaliknya.

Salah satu inti dari pemikiran Kang Muslim dan Gus Dur adalah bagaimana menjadikan Islam melampaui label dan simbol. Bagi mereka, Islam tidak hanya institusi di ruang-ruang ritual namun lebih dari itu adalah spirit. Islam harus bisa menjadi alat pembebasan mereka yang terbelenggu kemiskinan dan kebodohan, Islam juga harus mampu menjadi pelindung bagi kelompok minoritas. Karena itu, mereka sering menyerukan agar para pemimpin agama tidak hanya sibuk mengurusi hak Tuhan, melainkan juga harus peka dan peduli terhadap nasib dan hak hamba Tuhan. Para pemimpin agama tidak selayaknya hanya berpangku tangan menyaksikan penderitaan masyarakat sekelilingnya.

Kang Muslim dan Gus Dur juga melihat bahwa walaupun Islam harus terus bertransformasi dalam modernitas, keduanya meyakini bahwa Islam juga harus mengapresiasi budaya dan peradaban masa lalu agar Islam tidak tercerabut dari akarnya. Islam juga harus bisa beradaptasi dengan konteks dan budaya lokal tempat dia hidup dimana kelenturan dan keluwesan sangat dibutuhkan. Dialog antara Islam dan lokalitas adalah keniscayaan. Dengan etos inilah menurut mereka Islam akan dapat diterima secara universal.

Payung Anak Muda

Seperti juga Gus Dur, Kang Muslim adalah sosok yang bersahaja, low profile. Dia bisa bergaul dengan banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Maka tidak heran jika Kang Muslim semasa hidupnya memiliki banyak sahabat, bahkan dari beragam generasi. Dan yang paling menonjol dari kebersahajaan dan keluasan pergaulan Kang Muslim adalah sikap mengayomi dan melindungi anak-anak muda. Sikap ini sangat terlihat ketika sejumlah anak muda Muhammadiyah mendapat tentangan dari sejumlah tokoh organisasi ini karena mendirikan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Kang Muslim berani "pasang badan" guna menghadapi tentangan tersebut. Ia juga tidak hirau dianggap liberal karena pemikiran-pemikiran yang ia tularkan kepada anak-anak JIMM.

Sikap ini mengingatkan kita ketika Gus Dur juga melakukan hal yang sama untuk anak muda NU. Kita tidak akan lupa ketika Jaringan Islam Liberal (JIL) yang digagas beberapa intelektual muda NU dihujat dan dituduh sebagai agen kapitalis, agen zionis dan sebagainya. Lembaga ini juga dicap sebagai organisasi berbahaya bagi generasi muda NU. Namun Gus Dur tetap mengayomi dan membela mereka secara rasional. Bahkan Gus Dur menggelar acara "Kongkow Bareng Gus Dur" setiap Sabtu pagi di kantor JIL di Utan Kayu. Acara ini seakan memberi pesan kepada khalayak dimana posisi Gus Dur terhadap organisasi ini. Meskipun Gus Dur sering mengkritik mereka sebagai "terlalu genit" dan terlalu menonjolkan label, namun Gus Dur menganggap mereka adalah aset berharga bagi NU yang tidak boleh hilang.

Sikap mengayomi dan melindungi dari orang-orang seperti Kang Muslim dan Gus Dur di Indonesia tidak banyak. Orang-orang seperti mereka tidak bisa muncul begitu saja, melainkan memerlukan proses yang panjang. Orang-orang yang bisa menjadi payung dan sandaran seperti mereka tidak hanya membutuhkan komitmen kuat melinkan juga keberanian, pengalaman dan pergaulan yang luas. Karena itu kita mafhum jika banyak intelektual  muda NU saat ini bertanya siapa pengganti Gus Dur, bukan dalam hal intelektualitasnya melainkan pada sikap mengayomi dan melindungi tersebut. Barangkali hal itulah yang akan dirasakan anak-anak muda Muhammadiyah sepeninggal Kang Muslim.

Beberapa tahun terakhir, tantangan yang dihadapi generasi muda muslim terutama NU dan Muhammadiyah memang tidak mudah. Selain harus berhadapan dengan tantangan eksternal seperti krisis ekonomi, sosial, politik, hukum dan budaya, mereka juga harus berhadapan dengan tantangan internal organisasi masing-masing. Berbagai pemikiran progresif dan sikap-sikap mereka yang pro terhadap perubahan telah memicu perlawanan dari golongan konservatif yang ingin mempertahankan kemapanan. Dan biasanya kelompok progresif ini berjumlah sedikit dan sering mengalami marjinalisasi dari ruang-ruang publik organisasi. Tidak banyak anak muda NU dan Muhammadiyah progresif bisa masuk ke pusaran kekuasaan organisasi. Lebih banyak, mereka membangun ruang-ruang ekspresi di luar dimana mereka bisa bereksperimen secara independen.

Kang Muslim dan Gus Dur melihat fakta ini sebagai hambatan baik dalam pengembangan intelektual maupun dalam hal kaderisasi kepemimpinan organisasi. Apabila anak-anak muda terdidik tidak memiliki ruang yang cukup dalam NU dan Muhammadiyah, maka kedua organisasi ini akan kehilangan kader-kader potensial mereka di masa mendatang.

Hal ini tentu bukan berarti anak-anak muda harus merebut kekuasaan organisasi atau menyingkirkan mereka yang dianggap konservatif. Bagi Kang Muslim dan Gus Dur, NU dan Muhammadiyah harus membangun iklim keterbukaan termasuk terhadap pemikiran-pemikiran keagamaan baru. Organisasi harus membuka ruang yang seluas-luasnya bagi proses dialog yang konstruktif. Organisasi juga harus membuka diri terhadap kritik yang bertanggungjawab dan menghilangkan prasangka dan penghakiman pemikiran seperti yang terjadi sebelumnya. Iklim ini secara tidak langsung akan menumbuhkan demokratisasi dalam regenerasi kepemimpinan organisasi.

Hal itu bisa dilakukan, asal ada kemauan. Apa yang dipraktekkan Kang Muslim dan Gus Dur bisa menjadi model. Sikap mengayomi dan melindungi bukan berarti mengafirmasi semua gagasan dan pemikiran anak-anak muda. Kang Muslim dan Gus Dur juga kerapkali memberi kritik yang tajam dan proporsional. Bagi keduanya, mengapresiasi prestasi dan memperbaiki kekeliruan adalah dua sisi yang tidak boleh hilang dalam tradisi organisasi. Sembari mengutip satu kaidah ushul fikh, Gus Dur sering mengatakan "...bagi saya, (tradisi) yang baik-baik harus kita teruskan, sementara yang tidak baik kita ubah atau buang".

Namun kita selalu tidak perdaya mempertahankan "yang baik" jika Yang Kuasa ingin mengambilnya. Dan itulah fakta saat Kang Muslim dan Gus Dur meninggalkan kita untuk selamanya. Sesungguhnya kita milik-Nya dan kepada-Nya semua akan kembali.

* Penulis adalah peneliti The Wahid Institute