Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Program

Senin, 25 Juni 2012 05:02
Kursus Pemikiran Gus Dur

Berakhir di Malam Minggu

Ciputat-wahidinstitute.org. Kursus pemikiran Gus Dur berakhir di malam Minggu pertengahan Juni silam (16/06). Digelar pukul 14.00 WIB,  kegiatan rutin itu selesai pukul 22.30 WIB.  Muhammad Afifi, direktur eksekutif Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren, memberi cindera mata dan sertifikat kepada pemateri dan seluruh peserta yang hadir.

Kegiatan penghujung ini dibagi dalam dua sesi dengan waktu terpanjang. Sesi pertama pukul 14.00-17.00 dengan bahasan tiga tema besar: Gus Dur dan Kebudayaan, Gus Dur dan Pesantren, dan Gus Dur dan Ilmu Sosial Kritis. Sesi kedua pukul 20.00- 23.00 diisi refleksi peserta mengenai rangkaian dan proses kegiatan kursus pemikiran sejak pertama kali digelar. Sesi ini diselingi pentas seni oleh Fidolio S. Inabuy, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, yang juga peserta kursus. Beberapa lagu dibawakannya dengan iringan saksofon, gitar, dan seruling.

Dipandu Muhammad Idris, Koordinator  Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren, kajian kursus ketujuh ini diawali dengan membaca Fatihah bagi mendiang KH. Abdurrahman Wahid, dilanjutkan pemaparan Syaiful Arif, pemateri yang juga koordinator kursus.

Arif mulai dengan gagasannya seputar pemikiran Gus Dur dan Ilmu Sosial Kritis. Gagasanya mengenai hal itu sebetulnya pernah ia tuangkan panjang lebar dalam Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif, karyanya yang diterbitkan Koekoesan, Depok. "Saya lebih suka menggunakan istilah transformatif ketimbang kritis. Istilah itu juga itu juga pernah dipakai Gus Dur,"jelas merujuk judul buku yang dipilihnya.

Arif juga menyinggung pikiran dan kiprah Gus Dur seputar dunia pesantren. Menurut Arif umumnya gagasan Gus Dur tentang pesantren bermuara pada upaya mantan ketua PBNU itu membendung arus modernitas ketimbangkan memodernkan pesantren. Gus Dur dinilainya sebagai sosok yang gigih membela pesantren tradisional.

Mantan presiden RI ke-4 ini, kata Arif, jelas menolak dan mengeritik tesis Clifford James Geertz yang menyatakan kiai sebagai "pialang kebudayaan" (cultural broker)atau bendungan arus modernitas. Bagi Gus Dur, menurut Arif, kiai justru menjadi "pembaru" (innovator). Sebagai pembendung modernisasi, Geertz -panggilan akrabnya-menilai peran itu kelak akan hancur akibat derasnya arus modernitas. "Gagasan Gus Dur ini mengamini tesis Horikoshi yang menjadi antitesis pandangan Geertz di atas," tandas Arif.

Geertz, seorang antropolog terkenal kelahiran San Francisco, Amerika, pada 23 Agustus 1926. Lelaki yang meninggal 30 Oktober 2006 itu dikenal lewat penelitian-penelitiannya di Indonesia dan Maroko untuk bidang agama, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional, serta kehidupan desa dan keluarga. Tiga tipologi masyarakat, priyayi, santri dan abangan, merupakan salah satu temuan pentingnya yang populer.

Adapun Horikoshi yang disebut Arif tak lain Hiroko Horikoshi, peneliti asal Jepang yang pernah melakukan penelitian pesantren-pesantren di Jawa Barat. Hasil penelitiannya dibukukan dengan judul Kyai dan Perubahan Sosialterbitan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M ) tahun 1987.

 "Gus Dur menilai kebudayaan adalah kehidupan sosial manusia (human social life) yang tak boleh diintervensi negara". Menurut Arif, ini pandangan inti Gus Dur tentang kebudayaan. Itulah mengapa Gus Dur terang-terangan melancarkan kritiknya tentang birokratisasi kebudayaan. Bagi Gus Dur, lanjut Arif, jarang dan hampir tak pernah terjadi kebudayaan dianggap sebagai kebudayaan negara. Negara tak pernah ada dan tak seharusnya berurusan dengan kebudayaan. "Kebudayaan bagi Gus Dur harus dipisahkan dari negara, karena negara terjelma oleh hasrat menguasai, sementara kebudayaan merupa kebebasan kultural manusiawi." Pikiran Gus Dur mengenai ini bisa dirujuk dalam Pergulatan Antara Agama, Negara, dan Budaya diterbitkan Desantara. []

Penulis : Muhammad Idris.
Penyunting: Alamsyah M. Dja'far