Programs
Oleh Ayu Sulistyowati*
Agama sumber kedamaian, membawa pesan kepada seluruh umat manusia tentang kasih
sayang, keadilan, dan saling memahami. Sebagai berkah bagi semua makhluk,
agama merupakan pengingat abadi pada seluruh umat manusia tentang adanya percikan
ilahiyah pada setiap orang.

Namun, dewasa ini dunia bergejolak ketika tindakan-tindakan yang mengerikan
dibenarkan atas nama agama. Amat sering, kebencian dan kekerasan justru mengenyahkan
kedamaian saat agama dimanipulasi untuk tujuan-tujuan politik.
Demikian bait pertama komunike para pemuka agama dari beberapa negara yang disampaikan
di akhir konferensi religi dengan tema “Toleransi Antaragama: Sebuah Rahmat
bagi Semua Ciptaan” di Hotel Ritz
Para tokoh agama menyepakati tiada kata lain selain
toleransi antarumat untuk hidup damai berdampingan di belahan bumi mana pun.
Konferensi ini diprakarsai The WAHID Institute, Libforall, dan
Tokoh-tokoh agama yang hadir antara lain KH Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah
Wahid, Ahmad Syafi’i Ma’arif, Sri Ravishankar (tokoh Hindu India), Franz Magnis-Suseno,
Tjahjadi Nugraha, Yoichi Kawada, KH Yusuf Chudlori, dan Rabi Daniel Landes
(dari
Toleransi menjadi kata kunci pada pertemuan itu. Mereka secara terbuka
membahas berbagai hal, seperti tentang kebebasan berpindah agama hingga urusan
nuklir.
Seminar bertolak dari keprihatinan bersama ketika agama dianggap menjadi
pemicu munculnya kebencian yang menimbulkan peperangan dan kekerasan. Karena
itu, mereka bertemu dan bicara bahwa toleransi harus terus dikedepankan.
Banyak sudah peristiwa perang dan kekerasan dengan menyandang atribut agama,
seperti perang di Timur Tengah yang tak kunjung berakhir, peristiwa Poso (Sulawesi
Tengah), hingga peledakan bom bunuh diri di beberapa tempat di Indonesia,
termasuk Bali.
Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid mengingatkan agar kita lebih waspada, berhati-hati,
serta perlu ada kesadaran bersama. “Jika tidak, kita akan terperangkap dan
masuk dalam bahaya,” ujar Gus Dur—panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid—seraya
menambahkan, beberapa kasus beratribut agama sering dicampuradukkan dengan
kepentingan politik kelompok.
Para pemuka agama itu pun bersepakat untuk jangan pernah terkecoh, apalagi
mencampuradukkan antara agama dan politik. Itu
menjadi awal dari kehancuran dan peperangan umat.
Saling Menghancurkan
Salah satu pemuka Yahudi dari
Oleh karena itu, sangat penting untuk saling menghormati satu sama
lain meski dengan keyakinan yang berbeda. “Sekarang ini kita sedang bertoleransi.
Saya senang bisa duduk di sini bersama dengan tokoh-tokoh agama dalam konferensi
ini,” katanya dengan senyum.
Alangkah indah melepaskan segala atribut yang melekat dalam diri, terutama
agama, ketika seorang pribadi bertemu pribadi lainnya, atau tengah berada
di antara banyak pribadi, apalagi bila ada embel-embel politik. Seketika itu,
pribadi tersebut telah membaur dalam publik.
Apa yang terjadi jika tidak ada seorang pun menyandang kepentingan pribadi?
Jawabnya adalah damai. Dan kedamaian itu bisa terwujud salah satunya dengan
hidup bertoleransi. “Toleransi beragama itu tidak ada batas,” ungkap Gus Dur.
Ada kesan bahwa ada agama tertentu yang mengizinkan kekerasan dan penggunaan
pedang. Banyak peperangan atau kekerasan terjadi dengan membawa simbol agama.
Jika benar terjadi, penjelasan apa yang sanggup memberikan pemahaman bahwa
sesungguhnya semua agama itu, termasuk Islam, adalah pembawa damai?
Tokoh agama Buddha dari Jepang, Dr Yoichi Kawada, yang juga Direktur
Utama Pusat Studi Filsafat Oriental, mengungkapkan, jawabannya adalah dialog,
pertukaran, keharmonisan, dan pendidikan. Perlu ada pertukaran informasi mengenai
Islam kepada non-Islam dan sebaliknya. Ia pun mulai mendapatkan pemahaman
karena sudah berdialog dengan tokoh Islam seperti Gus Dur, Prof Nur Yalman
(Universitas Harvard), dan Dr Majid Tehranian (Universitas Hawaii).
Menurut pemahamannya, meski agama Buddha yang dianutnya dan Islam itu berbeda,
tema bersama di antara keduanya adalah kebaikan. Sedangkan jihad itu memiliki
kecenderungan berjuang melawan kejahatan jiwa dalam Buddha.
Agama Hindu India, melalui pemuka agamanya yang termasyhur di India, Sri Ravishankar,
mengedepankan toleransi dengan baju kebersamaan.
“Ketika seorang pribadi berada dalam lingkungan publik, dia bukanlah
lagi seorang pribadi, tetapi melebur menjadi publik. Pakaian yang melekat
atas nama pribadi ditanggalkan, seperti agama. Karena itu, yang ada hanya
kepentingan bersama dalam kebersamaan,” paparnya.
Tidak Mudah
Dalam pandangan Franz Magniz-Suseno, tidak mudah menjalankan toleransi, terutama
di atas Bumi Pertiwi Indonesia yang sangat beragam suku, adat, budaya, agama,
pendatang dan pribumi.
“Tidak mudah. Tetapi, yakinlah bahwa dengan sering berkomunikasi, perlahan
permasalahan akan teratasi. Seperti peristiwa Poso memang masih rumit. Namun,
saya menilai sekarang ini jauh lebih baik dari tahun ke tahun karena adanya
komunikasi,” papar Romo Franz.
Tak luput dari pembicaraan adalah soal terorisme, yang juga harus diperangi.
Syafi’i Ma’arif selaku mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah berpendapat, terorisme
itu tidak sederhana. Apalagi terorisme dikenal dengan jihad melalui bom bunuh
diri.
Menurut dia, ada tiga hal yang perlu dipisahkan saat membicarakan terorisme,
yakni terorisme bersifat pribadi, terorisme grup, atau ada yang mensponsori.
Islam sebenarnya moderat, terbuka, dan toleran.
“Itu yang kami perjuangkan bersama Muhammadiyah dan NU. Ke depan, kita
harus serius melawan segala macam bentuk terorisme,” ujar Syafi’i menegaskan.[]
*Wartawan Kompas

Indonesia
English
Print
Email
Comment
Share