Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Programs

Senin, 2 Juni 2008 12:00

 

Jakarta, wahidinstitute.org
Peristiwa kekerasan yang terjadi pada peringatan Hari Pancasila di Monas tanggal 1 Juni lalu oleh laskar Front Pembela Islam (FPI) sangat disesalkan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Mereka meminta Pemerintah memproses pembubaran FPI sebagai pelaku kekerasan.

“Mendesak Pemerintah SBY agar bertindak tegas dengan memulai proses hukum untuk membubarkan organisasi yang nyata anti Pancasila, anti UUD 1945, anti kebhinekaan, menebar kekerasan seperti FPI dan segala organ di dalamnya”

Demikian salah satu butir pernyataan sikap AKKBB yang dibacakan Anick HT dalam jupa pers di Kantor The Wahid institute (WI), Senin (02/06/2008).

Hadir dalam jumpa pers ini sejumlah tokoh masyarakat seperti pengacara senior Adnan Buyung Nasution, Direktur WI Yeny Zannuba Wahid, Direktur Eksekutif WI Ahmad Suaedy, Direktur ICRP Siti Musdah Mulia, wartawan senior Goenawan Muhammad, Direktur LBH Jakarta Asfinawati dan sejumlah korban penyerangan Monas.

Dalam jumpa pers ini AKKBB juga meminta polisi menangkap para pelaku kekerasan dan menuntut pertanggungjawaban pemimpin penyerangan seperti Munarman. “Dia (Munarman) sudah menyatakan diri sebagai pemimpin penyerangan. Oleh karena itu polisi harus memperosesnya secara hukum” jelas Anick.

Goenawan Muhammad menambahkan bahwa Tragedi Monas 1 Juni 2008 adalah bentuk penghinaan terhadap Pancasila dan konstitusi Negara. Karena itu ia mengingatkan agar Presiden SBY yang telah bersumpah menegakkan konstitusi untuk menindak keras para pelaku. “Kalau dia (SBY) tidak melaksanakan sumpahnya, maka dia tidak layak untuk jadi presiden,” tegas budayawan itu.

Direncanakan
Direktur Eksekutif WI Ahmad Suaedy menambahkan bahwa tragedi Monas bukanlah tindakan sporadis dan spontan melainkan sudah direncanakan sebelumnya. Menurut aktifis yang turut menjadi korban ini, banyak bukti yang menunjukkan FPI memang datang ke Monas untuk menyerang AKKBB.

“Dan perlu diketahui, rencana penyerangan ini dilakukan di Masjid Istiqlal. Saya punya beberapa orang yang ada di sana, dan mereka tahu bahwa strategi penyerangan disusun di sana,” jelas Suaedy.

Hal ini ditegaskan tim pembela hukum AKKBB Asfinawati. Ia mengatakan bahwa pemimpin penyerangan Munarman sudah menyatakan di berbagai media bahwa serangan 1 Juni di Monas adalah serangan balasan terhadap iklan AKKBB di berbagai media massa pada tanggal 26-27 Mei lalu, sementara aksi AKKBB berlangsung pada tanggal 1 Juni. Hal ini bagi Asfin mengindikasikan adanya niat dari Munarman dan kelompoknya untuk menyerang.

“Selain itu, ada satu korban yang dilempar pasir yang menimbulkan rasa gatal dan rasa panas. Artinya mereka mencampur pasir itu dengan benda-benda tertentu. Dan itu adalah bentuk tindakan perencanaan,” jelas Asfin.

Bukti lain lanjut Asfin, ditemukan berbagai selebaran yang menjelaskan salah satu elemen yang melakukan penyerangan awalnya akan melakukan aksi pada tanggal 1 Juni jam 8.00 pagi. Namun jadwal aksi tersebut diundur menjadi jam 13.00 bersamaan dengan waktu aksi AKBB.

“Dari temuan awal ini, setidaknya mengindikasikan ada perencanaan yang mereka lakukan untuk menyerang AKKBB” simpulnya.(AZ)