Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Programs

Senin, 26 Juli 2010 02:28

TASIKMALAYA-WAHIDINSTITUTE .ORG.Pemerintah Australia berterima kasih kepada the Wahid Institute atas kerjasama dalam program pendidikan. Implementasi program tersebut, dalam bentuk Beasiswa Riyanto.

"Kami atas nama Pemerintah Australia berterima kasih kepada Wahid Institute yang telah bekerjasama dengan kami dalam membangun pendidikan di Indonesia," kata Steve Barnes, Executive Officer Regional Communities Outreach Program di Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. Steve Barnes menyampaikan itu saat bertemu dengan guru-guru dan murid penerima Beasiswa Riyanto di MAN Cipasung, Tasikmalaya, Rabu siang (21/7).

Steve Barnes datang ke MAN Cipasung dalam rangka memantau pelaksanaan program Beasiswa Riyanto. Pemerintah Australia adalah salah satu donatur program beasiswa yang diluncurkan the Wahid Institute.

Steve mengungkapkan, kerjasama bidang pendidikan antara pemerintah Australia dengan Indonesia telah terjalin dengan baik. Selain dengan lembaga swadaya masyarakat, pemerintah Australia juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Indonesia. "Ribuan sekolah sudah kami bantu melalui Departemen Pendidikan Nasional," kata Steve.

Hadir dalam kesempatan itu antara lain, First Secretary Duta Besar Australia untuk Indonesia Glen Askew, Direktur Eksekutif the Wahid Institute Ahmad Suaedy, Kepala Sekolah MAN Cipasung H. Drs. Badurzzaman M.Pd dan perwakilan guru SMA Al Wahid Tasikmalaya Dodi Kurniawan.

Dalam kesempatan itu, para wakil sekolah menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Australia dan Wahid Institute atas beasiswa yang diberikan kepada murid-murid yang mebutuhkannya.

"Beasiswa ini sangat bermanfaat sekali bagi murid-murid kami, mengingat mereka kebanyakan berasal dari keluarga dengan pendapatan kecil," ungkap Badurzzaman.

Hal itu, diamini Dodi Kurniawan. "Sekolah kami terletak di desa. Beasiswa ini merupakan anugerah yang besar buat murid-murid kami," kata Dodi.

Steve Barnes juga menyempatkan diri berdialog dengan murid-murid penerima beasiswa. Para murid menyampaikan keinginananya kepada delegasi pemerintah Australia dalam bahasa Inggris yang lancar. "Kami ingin melanjutkan sekolah hingga keperguruan tinggi. Dengan senang hati kami menerima, jika ada peluang beasiswa untuk itu dari pemerintah Australia," ucap Dani Sunjana, penerima beasiswa Riyanto dari SMA Al Wahid, Tasikmalaya.

Usai berdialog denagn para guru dan siswa penerima beasiswa, rombongan delegasi Pemerintah Australia itu menyempatkan diri berkunjung ke Pesantren Cipasung. Mereka disambut pengurus Pesantren Cipasung Ibu Hj. Neng Ida Nurhalida dan H. Abdul Chobir.

Di pesantren yang didirikan oleh KH Ruhiat pada 1930 ini, mereka mengunjungi kamar-kamar santri dan membandingkan sistem pendidikan pesantren dan Australia. Steve Barnes begitu kagum dengan jumlah santri yang mencapai 9.000 orang.

Menurut Abdul Chobir, biaya pendidikan para santri di pesantren itu kebanyakan gratis. "Pesantren menerapkan subsidi silang. Pembiayaan pendidikan kebanyakan didapat dari para donatur, sehingga tidak memberatkan santri," jelas Abdul Chobir.

Sedangkan Ida Nurhalida, yang telah dua kali mengunjungi Negeri Kangguru untuk studi banding pendidikan, mengatakan ada perbedaan besar antara sistem pendidikan pesantren dan Australia. "Jika di sini muri-murid sangat hormat kepada gurunya. Di Australia para murid memiliki kebebasan untuk protes jika tidak berkenan," jelas Ida.

Steve menyampaikan terima kasih kepada pihak pesantren. Ia mengatakan akan menyampaikan hasil kunjunganya tersebut kepada pemerintah Australia. (GF)