header header
header
header

Home
Tentang Kami
Berita dan Agenda
Aktivitas
Opini
Buku
Jaringan
GusDur.Net
Index
 
 
 

Monthly Report XII

Download Center

 
spacer  
Jaringan   
KH M.Yusuf Chudhori

 

KH Yusuf Chudlori termasuk agamawan yang sangat dekat dengan masyarakat, utamanya masyarakat lereng gunung Merapi dan Sumbing. Ayah Ahmad Haikal Tajani Humaid (3 tahun) dan Yusfina Zahra Tsania (2 tahun) yang juga dikenal sebagai tokoh seni dan budaya ini aktiv di berbagai komunitas sosial. “Seni bisa menjadi alat untuk beribadah, asalkan niat kita benar dan menjalaninya dengan baik,” ujar Gus Yusuf, sapaan akrabnya.

Bersama Sutanto Mendut, Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang ini menggagas berdirinya Komunitas Merapi. Melalui komunitas ini, alumni Ponpes Lirboyo 1994 ini menggelar berbagai kegiatan, seperti kesenian gunung, pemberdayaan masyarakat gunung, juga festival gunung.

“Di sela-sela festival misalnya, kita mengadakan dialog dengan masyarakat seputar persoalan yang mereka hadapi sehari-hari,” ujar kyai muda energik ini. “Kita sengaja berkomunikasi lewat jalur kebudayaan, karena bisa klir dan cair,” lanjutnya beralasan.

Dia mencontohkan, bagaimana sikap ayahandanya, KH Chudhori yang lebih menganjurkan membeli gamelan ketimbang membangun masjid di suatu komunitas masyarakat gunung. “Pertimbangannya sederhana. Gamelan adalah sarana bagi masyarakat untuk berkumpul, sehingga ada ruang persemaian nilai bersama yang dibangun,” ujarnya. “Formalisasi hanyalah sarana. Karena tujuan yang sebenarnya dibangun adalah tataran nilai,” imbuhnya.

Gus Yusuf juga menggagas berdirinya Akademi Gunung. Melalui akademi ini, antara lain, ia membantu memfasilitasi pemasaran hasil pertanian masyarakat gunung, seperti kubis, kentang, sayur-sayuran, tembakau, dan lain sebagainya. Ia memang bangga dengan kehidupan masyarakat gunung. “Di gunung, masih banyak hal yang genuine. Masyarakat perkotaan resah soal lonjakan ekonomi dan BBM, masyarakat gunung justeru lebih survive,” terangnya. Soal Fatwa MUI, masyarakat gunung juga tidak terpengaruh.

Pengelola Radio Fast FM ini juga melakukan pendampingan korban narkoba melalui Komunitas Gerakan Antinarkoba dan Zat Adiktif (Komganaz). Selaku salah satu presidium, ia banyak menggelar dialog-dialog di kampus, sekolah, juga masjid. “Kita ingin pendekatan preventif,” katanya. Sekitar 12 korban narkoba telah didampinginya.

Menurut kyai muda ini, kesadarannya untuk terus memikirkan nasib masyarakat pinggiran, antara lain, bersumber dari doktrin Islam. “Di Islam kita dituntut untuk ta’awanu (saling tolong-menolong, red) dan rahmatan kepada seluruh makhluk,” ujarnya. ”Selain itu, karena saya hidup di kaki gunung, maka saya bergelut dengan persoalan-persoalan seperti itu,” imbuhnya lagi.

Gus Yusuf juga tak segan-segan mengkritik sikap banyak kyai yang masuk dalam ruang-ruang politik. Karena hal itu menyebabkan kekosongan di tingkat ruang kultural. ”Akibatnya, ruang-ruang kultural yang dulunya menjadi basis kyai semakin tergeser oleh fenomena munculnya dai-dai instan yang cenderung melepaskan pandangan agama terhadap realitas sosial yang ada,” imbuhnya.

Untuk itu, Gus Yusuf menganjurkan supaya kalangan elite pesantren mau kembali bersama-sama menemani rakyat kalangan bawah, mulai dari petani, buruh dan komunitas marginal lainnya.

Nama : M Yusuf Chudlori
TTK : Magelang, 9 Juli 1973 (32 tahun)
Aktivitas:
LSM Komunitas Gerakan anti Narkoba dan Zat Adiktif (Komganaz)
Pendiri Komunitas Merapi (bersama Kanto Mendut).
Pendiri Akademi Gunung
Pengelola Radio Fast FM

 
   
spacer
Contact
spacer
spacer
spacer
header