header header
header
header

Home
Tentang Kami
Berita dan Agenda
Aktivitas
Opini
Buku
Jaringan
GusDur.Net
Index
 
 
 

Monthly Report XII

Download Center

 
spacer  
Profil Jaringan   
Hj. Siti Ruqoyyah Ma'shum
Darah Biru Pembela Perempuan

 

Dinding Mushalla al-Ma’shumiy itu tertempel poster-poster dalam berbagai bahasa. Ada bahasa daerah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Semua mengekspresikan kesetaraan perempuan dan laki-laki, baik kesetaraan dalam rumah tangga, masyarakat maupun pemerintahan.

”Ma akramahunna illa karim wa ma ahanahunna illa la’im /Hanya orang mulia yang memuliakan perempuan dan hanya orang hina yang menghinakan perempuan.” Itulah satu bunyi poster pembelaan atas perempuan yang dinukil dari petuah Shahabat Ali bin Abi Thalib, yang tampak anggun terpampang di sana.

Mushalla kecil yang tampak sederhana itu disesaki tak kurang 250 ibu-ibu Majlis Ta’lim al-Ma’shumiy. Mereka yang berumur antara 25 sampai 70 tahun itu rela berhimpitan untuk ngalap kaweruh (menuntut ilmu) pada Nyai yang sore itu terlihat membaca baris-baris kitab kuning. Al-Qur’an dan beberapa kitab klasik lainnya tertumpuk di atas dampar kecil, di sampingnya.

Itulah salah satu aktivitas rutin Nyai Hj. Siti Ruqoyyah Ma’shum, 35 tahun, perintis sekaligus mengasuh Ponpes Putri Al-Ma’shumiy, yang memiliki sedikitnya 30 santri putri berusia antara 9-15 tahun. Ia juga mengelola Group Hadrah Putri yang mensosialisakan shalawat keadilan.

Di tengah keseriusannya menelaah lembaran-lembaran kitab kuning itu, acapkali tiba-tiba ia berdiri menunjuk poster-poster itu. Sejurus kemudian, Nyai Ruqoyyah membaca poster-poster itu lantang sembari menerjemahkan sekaligus menguraikannya menggunakan bahasa daerah. Dengan cara inilah, janda berputera satu ini, Hasan Wizad, 18 tahun, menanamkan nilai-nilai kesetaraan perempuan dan laki-laki.

“Saya memang menggunakan cara persuasive untuk memberi pemahaman tentang kesetaraan ini,” ujarnya kepada Ahmad Suaedy dari The Wahid Institute, saat bertandang ke padepokannya.

Nyai berdarah biru ini memang terkenal sangat gigih memperjuangkan keadilan bagi perempuan dari aneka tindak kekerasan, diskriminasi dan pelecehan. Tidak terbatas di forum pengajian, ia juga melayani konseling geratis kepada masyarakat sekitar, kapan saja. “Karena saya di kampung, problem apa saja, siapa saja, selalu dibawa ke sini,” imbuhnya.

Nyai yang pernah menjadi Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Bondowoso (1996-1999), Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Bondowoso Divisi Pemberdayaan Perempuan (2000-2005), dan anggota Forum Muballighoh Peduli Perempuan dan Anak (FMP2A) Jawa Timur ini, juga melakukan pendampingan perempuan korban perkosaan di Jember dan Bondowoso.

Kehidupan memang telah ’menyetting’nya sebagai penegak keadilan bagi perempuan. “Allah berkehendak terhadap membuminya keadilan. Saya melakukan semua itu karena misi ini,” Nyai yang dipaksa menikah pada usia 14 tahun ini berargumen.[]

Hj. Siti Ruqoyyah Ma'shum
Bondowoso Jawa Timur, 2 Desember 1970
Alamat:
Ponpes Putri Al-Ma’shumiy
Jl. Raya Prajekan, Bondowoso, Jawa Timur

 
   
spacer
Contact
spacer
spacer
spacer
header