|
Arsip Suplemen The Wahid Institute di Majalah Tempo |
|
Untitled Document
Arsip Suplemen
The Wahid Institute di Majalah Tempo
 |
|
Kalangan santri tidak lagi menganggap bidang eksakta sebagai sesuatu yang tabu ditekuni. Bahkan ada kesadaran, untuk menyongsong era global yang serba digital, pesantren wajib menguasai bidang ini. Jika tidak, pesantren akan tertinggal di segala lini. Merekapun rame-rame menekuni bidang ini.
[Suplemen No.17] |
 |
|
Rakyat kecil punya cara sendiri untuk bertahan hidup. Mereka mengorganisasi diri dan melakukan praktik simpan pinjam. Dananya dari kocek pribadi sampai patungan. Dikelola secara kekeluargaan hingga profesinal. Keuntungan bukan tujuan utama.
[Suplemen No.16] |
 |
|
Bukan hanya mengaji, kini para santri juga pandai membuat film indie (independen). Ada dokumenter, juga fiksi. Keterbatasan peralatan dan dana bukan halangan.
[Suplemen No.15] |
 |
|
Bencana menerjang bertubi-tubi tak pandang bulu. Tsunami, banjir, gempa bumi, gunung meletus, hadir silih berganti. Kelompok-kelompok agama dituntut meningkatkan perhatian pada komitmen kemanusiaan.
[Suplemen No.14] |
 |
|
Berbagai media digunakan untuk menyiarkan Islam yang damai. Beberapa pesantren, santri dan masyarakat mendirikan radio untuk itu. Tidak hanya yang bersifat komersial, tapi juga radio komunitas yang berbasis masyarakat.
[Suplemen No.13]
|
 |
|
Fatwa organisasi keagamaan berfungsi memandu jama'ahnya. Dari urusan pribadi hingga publik. Beberapa dibuat untuk merespon zamannya.
[Suplemen No.12]
|
 |
|
Sedikit orang yang mumpuni membaca pustaka beraksara Arab. Tak cukup hanya prihatin, beberapa ulama Indonesia merancang metode cepat memahami jendela keilmuan Islam itu.
[Suplemen No.11]
|
 |
|
Tafsir lokal dibuat agar makna al-Quran lebih dipahami umat. Namun ada yang menganggap sesat.
[Suplemen No.10]
|
 |
|
Kerusakan lingkungan yang kian parah membangkitkan kepedulian para pemimpin agama. Para kiai dan aktivis bersatu dengan rakyat menentang rencana PLTN Muria di Jawa Tengah dan mengadvokasi korban Lumpur Lapindo di Jawa Timur.
[Suplemen No.9] |
 |
|
Karya seni Islam yang bernuansa lokal kian terdesak. Kiai-kiai lokal kini mengkreasinya untuk syiar Islam dan reinvensi budaya. Ada yang dibuat dengan ritual khusus.
[Suplemen No.8] |
 |
|
Jaringan SMP Qoryah Thoyyibah menyediakan pendidikan
murah, membebaskan dan kaya prestasi. Hakekat pendidikan pesantren ada di sini.
[Suplemen No.7] |
 |
|
Makin banyak aktivis perempuan yang lahir dari pesantren. Mereka mengadvokasi, mendampingi, melakukan konseling sampai membangun rumah singgah untuk menampung korban kekerasan.
[Suplemen No.6] |
 |
|
Novel-novel pop marak diproduksi para santri. Tabir pesantren diungkap dengan gaul.
[Suplemen No.5] |
 |
|
Kekerasan atas nama agama belum juga reda. Namun banyak fakta, para pelakunya kini hijrah menjadi penyeru perdamaian dan Islam toleran, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia Arab.
[Suplemen No.4] |
 |
|
Konflik dan kekerasan akibat mengutamakan simbol makin kerap terjadi. Ajaran tasawuf diyakini dapat menjadi solusi.
[Suplemen No.3] |
 |
|
Kitab kuning bagi pustaka pemikiran ulama klasik banyak mengajurkan toleransi. Kelompok pengusung kekerasan dalam islam lahir diantaranya karena mengabaikan khazzanah klasik ini.
[Suplemen No.2] |
 |
|
Stasiun televisi berlomba menayangkan program keagamaan. Para dai dan calon dai, dari kecil hingga dewasa gencar dihadirkan tiap hari. Dakwah pun dikemas menjadi paket-paket yang mendatangkan uang.
[Suplemen No.1] |
| |
|
|
Klik pada gambar
untuk download per edisi atau
Klik
ke daftar arsip penerbitan the Wahid Institute
|