|
Bantul, wahidinstitute.org
Ribuan petani dan masyarakat berbaur dalam kemeriahan hari bumi yang diselenggarakan Pesan Trend Lingkungan Ilmu Giri, Dusun Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul Yogyakarta, Ahad (22/04/2007).
Perhelatan yang mengangkat tema Satu Bumi, Untuk Semua, ini juga menjadi momentum refleksi atas terjadinya gempa bumi tektonik yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya setahun lalu. Bencana yang tidak hanya menghancurkan ribuan rumah, tapi juga mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia.
“Bagi yang masih tinggal di atas bumi, sudah menjadi kewajiban kita untuk eling (ingat) dan mawas diri, sehingga hanya pikiran, ucapan dan tindakan kebaikanlah yang kita lakukan,” bunyi salah satu pesan yang dibagikan kepada para hadirin.
Sementara itu, Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri KH. Nasruddin Anshori Ch. Menegaskan, peringatan hari bumi ini dimaksudkan bukan sekedar seremoni dan retorika tanpa arti, melainkan renungan serius atas bumi yang sudah berumur jutaan tahun dan telah memberi manfaat besar bagi kemakmuran seluruh makhluk yang berdiam di atasnya.
“Betapa culas dan tidak bermoralnya manusia jika menjadikan bumi hanya sebatas objek eksploitasi, pemuasan diri, keserakahan dan ketamakan yang tak habis-habis,” tandas mantan aktivis LP3ES ini.
Acara ini juga mendapat perhatian besar dari Pemerintah Provinsi DIY, puluhan budayawan dari berbagai daerah, aktivis lingkungan hidup dan media massa. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berkenan memberikan orasi lingkungan hidup. Dalam naskah pidato yang dibacakan seorang staf Pemprov DIY, Sultan menekankan pentingnya tanggungjawab kolektif bagi kelestarian bumi ke depan.
“Hari bumi ini adalah momentum penting untuk mengingatkan kita bahwa planet ini sangat kecil dan rapuh. Namun kita juga sama tahu planet ini dari tahun ke tahun justru dicemari dan dirusak,” jelas Ngarso Dalem.
Lanjut Sultan, menyikapi kondisi buruk itu, selain dibutuhkan penegakan hukum yang tegas atas pelanggaran lingkungan, kesadaran bersama dari masyarakat juga penting dikedepankan. “Karena ini hanya bisa diperbaiki secara langgeng jika terdapat kepedulian kolektif terhadap pengawasan lingkungan. Hal yang mesti dirintis sejak dini adalah proses pendidikan,” ujarnya.
Dalam acara ini, dibacakan deklarasi bersama penyelamatan bumi. Lantas acara diisi pagelaran budaya dengan menampilkan Group Wayang Suket pimpinan Ki Slamet Gundono dari Tegal, pembacaan puisi oleh D Zawawi Imron dari Madura, kolaborasi seni lukis oleh Nasirun dan Dyan Anggraeni dari Yogyakarta, pementasan seni “Gejok Lesung” dan group Musik tradisional “Laras Madyo” oleh para petani sekitar Pesan Trend.
Selain itu, dilakukan penyerahan 1000 cangkul dan 1000 caping untuk 1000 petani, penyematan 1000 bendera merah putih pada 1000 cangkul petani, penanaman 7 pohon langka, pelepasan 7 merpati putih dan pembalutan 41 pohon dengan perban putih.
“Semua prosesi tersebut mengandung pesan moral bagi pelestarian alam dan makhluk hidup di bumi,” ujar Nasruddin. |