|
TUAN Guru Haji (TGH) Muhammad Subhi As-Sasaky (30). Dari namanya dapat diterka ia asli suku Sasak di Pulau Lombok. Di samping mengajar di pesantren miliknya, Al-Madany di bilangan Peluas, Kuripan Utara, Lombok Barat, sehari-hari pria berkacamata ini aktif berdiskusi, menjadi narasumber di berbagai forum dan media massa. Bahkan Selaparang TV di Lombok Timur mendapuknya sebagai narasumber dalam forum agama mingguan.
Subhi As-sasaky juga membentuk kelompok diskusi Tafaqquh Fiddin yang anggotanya tuan guru muda, guru agama, serta aktivis. Selain itu, jika terjadi kasus kemanusiaan di Lombok, pendapatnya kerap diminta Komnas HAM di Jakarta.
Pada kasus pengusiran Jamaah Ahmadiyah di Lombok Timur tahun 2002 lalu, ia bergabung dengan aktivis mahasiswa dan LSM di Lombok untuk mengadvokasi korban. Tak hanya itu, kelompok ini juga mengadvokasi berbagai kasus kekerasan di pulau itu.
“Saya belajar agama berbagai mazhab. Tidak ada yang membolehkan kekerasan kepada orang lain,” kata Subhi kepada Ahmad Suaedy dari the WAHID Institute di pesantrennya.
Saat kasus pengusiran dengan kekerasan terhadap muslim Ahmadiyah dari perumahan BTN Bumi Asri, Lombok Barat, awal Februari lalu, Subhi bersama gerakan demokrasi di Lombok mengeluarkan Petisi Anak Bangsa. Isinya mempertanyakan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menolak dialog dengan Ahmadiyah dengan alasan telah sesat. Juga kepada pemerintah daerah yang melarang eksistensi organisasi itu di Lombok Barat (Lobar), serta penyerang yang garang.
Kekerasan atas Ahmadiyah di Lobar, kata Subhi, didorong fatwa MUI yang menghukumi Ahmadiyah sebagai sesat dan Surat Keputusan (SK) Bupati Lobar yang melarang mereka hidup di Kabupaten itu. “Ini benar-benar di luar perikemanusiaan,” tegas staf ahli bidang kajian gender dan Islam LBH APIK di Mataram. “Beberapa orang Ahmadiyah stres berat, bahkan gila, dan ada yang keguguran karena serangan itu,” lanjutnya.
Setelah menamatkan Aliyah di Pesantren Ishlahuddiny, Kediri, Lombok Barat, Subhi langsung belajar di Ma’had Al-Jufry, Madinah. Di samping belajar berbagai mazhab dan pemikiran Islam di pesantren itu, selama 8 tahun ia berguru kepada ulama berbagai aliran di sekitar Madinah. “Saya mendatangi lebih dari 40 guru dengan mengayuh sepeda,” kenang ayah seorang putra ini.
Mulai dari guru yang bermazhab Salafiyah, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Wahabiyah, berbagai aliran tasawwuf dan fiqh hingga ilmu mantiq dan falsafah telah dijajakinya. “Semua aliran dalam Islam ada di Arab Saudi, tetapi karena pemerintahannya Wahabi, aliran lainnya jadi tak tampak,” lanjutnya.
Ia juga menulis berbagai makalah dan buku dalam bahasa Indonesia maupun Arab. Di antaranya al-Mulakhkhash ‘an-Nathiq fi’ Ilm al-Manthiq; Nadzm al-Syajarah: Sirah Nabawiyah; Qa’idah al-Fiqhiyyah dan banyak lagi tentang berbagai cabang ilmu dalam Islam dan masalah sosial.[]
Nama : TGH M. Subki al-Sakaki
Jabatan : Pengasuh Ponpes al-Madany Lombok Barat
Alamat : Peluas, Kuripan Utara, Lombok Barat
Pendidikan :
- Pesantren Ishlahuddiny Kediri, Lombok Barat
- Ma’had Al-Jufry, Madinah
|