|
 Diantara ribuan kiai di Jember, KH. Washil Sarbini (50) adalah figur kiai kharismatik yang gigih menggawangi Nahdlatul Ulama agar tidak diseret ke medan politik. Tak heran, di tiap acara NU yang mengusung pengembangan pemikiran, gerakan kultural, dan advokasi, sosok ini selalu terlibat penuh.
Ra Washil, sapaan akrabnya, tak canggung turun langsung mengatasi persoalan umat. Selain mengadvokasi para petani di Jember yang tanahnya dikuasai negara, ia juga mengelola balai pengobatan murah untuk warga Jember. Bahkan ia tak segan mendemo DPRD bersama petani.
“Kiai harus peduli pada masalah umat, terutama di lingkungan sendiri. Di Jember ini, kiai harus membantu petani menghadapi problem pertanian. Mulai mahalnya pupuk, rendahnya harga gabah, dan sebagainya. Kiai juga harus berani tampil bersama umat untuk mengontrol kebijakan. Ini sesuai Hadis Nabi, man lam yahtamma bi amr al-muslimiina falaisa min hum (siapa yang tidak memperhatikan masalah ummat Islam, maka ia bukan dari golongan mereka, red),” ujarnya kepada Paring W. Utomo dari Puspek Averroes, Malang.
Pengasuh Ponpes Roudhatul Ulum, Sumber Wringin, Jember ini juga gemar bersilaturahim ke kelompok dan pemuka nonmuslim, dengan membangun dialog lintas iman. Ini membuatnya diterima semua kelompok agama. “Saya ingin menunjukkan pada semua, bahwa Islam itu agama damai, mengedepankan dialog dan silaturahim,” ujarnya.
Namun, kini ia risau, karena banyak kelompok muslim yang gampang menyesatkan ‘orang lain,’ seperti terhadap Yusman Roy di Malang, Jawa Timur, yang mengajarkan shalat dua bahasa, Arab dan Indonesia. ”Ini masalah ijtihadiyah, yang biasa terjadi dalam Islam. Kalau kebetulan pemerintahnya orang Muhammadiyah, apa lantas mereka akan menangkapi orang yang shalat pakai qunut dengan dalih penodaan agama? Kan ya enggak,” tegasnya
Dari kasus itu ia menilai, iklim moderat NU terhadap kelompok minoritas kian menurun. “Sekarang sangat sulit menemukan pribadi seperti Gus Dur di NU yang terbuka menghadapi perbedaan,” kata orang kepercayaan ulama kharismatik Jawa Timur, KH. Chotib Umar.
Lulusan sebuah pondok di Arab Saudi ini yakin, kedekatan dengan siapapun, akan membuat hidup tentram. Karenanya tak heran, ia acap disowani masyarakat beragam latar belakang untuk konsultasi berbagai masalah. Pada pertengahan 2005 lalu misalnya, pondoknya dipakai untuk pertemuan lintas kelompok minoritas, antara lain, Komunitas Sedulur Sikep, Kajang, Dayak Kayau, Tengger, juga eks tapol PKI.
Karena selama ini belum mendapat sambutan hangat dari komunitas pesantren, beberapa eks tapol PKI itu menilai Ra Washil sebagai representasi Islam yang damai dan melindungi.[]
Biodata
Nama : KH. Washil Sarbini
Alamat : Ponpes Roudhatul Ulum Sumber Wringin, Jember Jawa Timur
Jabatan : Pengasuh
Pendidikan : Lulusan sebuah pondok pesantren di Arab Saudi |