header header
header
header

Home
Tentang Kami
Berita dan Agenda
Aktivitas
Opini
Buku
Jaringan
GusDur.Net
Index
 
 
 

Monthly Report XII

Download Center

 
spacer  
Jaringan   
KH. Abdul Muhaimin
Kerap Shalat di Katedral

 

Jarang agamawan seperti KH. Abdul Muhaimin. Pengasuh PP Nurul Ummahat, Kota Gede, Yogyakarta ini, tak alergi sedikitpun bergaul dengan non muslim. Misalnya di Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) yang dipimpinnya, ia banyak memfasilitasi kegiatan antar agama, baik Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu, Hindu, dan sebagainya.

Apa yang melatari sikap keterbukaannya? “Hablun min al-nas yang intinya moralitas dan humanitas. Pada aspek ini semua orang bisa ketemu,” ujar alumni PP Krapyak Yogyakarta ini kepada Nurul Huda Maarif dari the WAHID Institut e.

Karenanya, Kiai Muhaimin berpesan, jika bergaul dengan penganut agama lain jangan sekali-kali menyinggung masalah teologis. “Ini riskan. Nanti urung-urung (belum apa-apa, red) dicap kafir. Teologi itu masing-masing, lakum dinukum waliya din,” katanya. “Yang saya lakukan ini lebih ke aspek humanisme,” imbuh anggota Dewan Pembina Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini.

Saat ini ia sedang menjalin kerja sama dengan Yayasan Buddha Suci, sebuah organisasi sosial beranggotakan penganut Buddha, untuk program penanaman sejuta pohon Mahoni. “Baru 100 ribu pohon akan ditanam di lereng Merapi, Piyungan, dan Bantul,” katanya. Bentuk kerja sama itu, imbuhnya, bibit disediakan Buddha Suci dan pengelolaan lapangan ditangani dirinya dibantu Lakpesdam NU Yogyakarta.

Pria kelahiran Kotagede 13 Maret 1953 ini aktif ceramah di desa-desa yang mayoritas penduduknya non-muslim. “Saya ceramah ke grass root, tidak ke elit. Tidak hanya di desa muslim, juga desa nonmuslim,” imbuh penerima Tasrif Award tahun 2000 dari Aliansi Jurnalis Independen.

Saking intensifnya mengikuti dialog lintas iman, tak jarang ritual shalat dijalankan Kiai Muhaimin di tempat peribadatan nonmuslim. “Kalau saya nginep di Katedral, shalatnya yo di Katedral,” kata mantan aktivis GP Ansor ini. “Di Yogya sudah tahu semua, kalau waktu shalat, saya akan shalat. Ju’ilat al-ardhu masjidan. Bumi seluruhnya dijadikan sebagai tempat shalat,” katanya mengutip sabda Nabi Saw. “Tapi saya tidak shalat di altar gereja,” jelas Anggota Dewan Kebudayaan DIY ini.

Bahkan putera KH Marzuki ini menyilahkan nonmuslim untuk menginap di pesantrennya. “Banyak suster nginep di pesantren saya untuk mengenal Islam. Belum lama juga ada peneliti dari Universitas Berkeley di AS, India, Amerika, Cina, Korea, Roma dan Jepang,” ujarnya.

Karena keterbukaannya, Anggota MUI DIY Bidang Kerukunan ini kerap dinilai kontroversial, terutama oleh banyak tokoh NU. “Beda pandangan iku gaweane wong NU. Saya sendiri tidak punya pretensi semua harus berpandangan sama dengan saya,” tegas salah satu pemrakarsa perundingan Malino ini.

Murid kesayangan pengasuh PP Al Mutaqin Pancasila Sakti, Klaten, KH Muslim Rifai Imampuro alias Mbah Lim, ini juga menekankan pentingnya mengusung isu kebangsaan, karena bisa menyatukan keragaman masyarakat negeri ini. “Apapun agamanya, mereka iku bongso dew e,” tandas anggota komisi dialog antar agama Asian Conference Religion on Peace (ACRP) ini.[]

 
   
spacer
Contact
spacer
spacer
spacer
header