|
Saat di bangku SMP, Acep Zamzam Noor mengikrarkan diri tidak mau menjadi bayang-bayang ayahnya dan tidak mau menjadi kiai pesantren. Karenanya, sulung kelahiran 28 Februari 1960 ini, saat kelas 2 SMU hijrah ke Ponpes al-Syafi’iyyah Jakarta. Di sinilah suami Euis Nurhayati ini mulai menggeluti sastra.
Dan saat kuliah, pria yang hingga usia empat tahun bernama Abdul Wahid Ramadlan ini, ‘nekad’ masuk Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diselesaikannya pada 1988. “Asal kamu yakin bahwa seni yang akan kamu geluti itu bermanfaat bagi masyarakat,” demikian pesan Apihnya, pemimpin Ponpes Cipasung KH M. Ilyas Ruhiat.
Kecintaannya pada sastra berbuah puisi fenomenal berjudul Cipasung di tahun 1989. Puisi ini mengantarkan Cipasung dalam dunia sastra Indonesia, bahkan internasional. Puisi ini menunjukkan, Acep bisa membantu Apihnya mengembangkan pesantren dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh orang-orang di kampungnya, Cipasung, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Apihnya bangga saat Acep mendapat penghargaan South East Asian Write Award dari kerajaan Thailand pada 2005, atas kumpulan puisinya Jalan Menuju Rumahmu. Puisi ini dianggap sebagai kreasi dari kegelisahan dunia santri yang jujur dalam mencari Tuhannya.
Sebagai bukti kecintaannya pada seni, Acep membentuk Komunitas Azan. “Di komunitas ini
ada diskusi kebudayaan, agama, politik, dan sebagainya. Juga ada pementasan teater, puisi, tari, musik dan kesenian tradisional yang hampir punah. Termasuk juga ada wayang kreasi baru,” ujar Acep kepada M. Subhi Azhari dari the WAHID Institute .
Komunitas yang dibentuk pria berkacamata ini, beranggotakan seniman dari Cipasung dan simpatisan dari berbagai daerah di Jawa Barat. “Kita punya relasi dengan banyak seniman. Dari Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, Kuningan, dan sebagainya. Kita sering tampil bersama,” tuturnya. “Di sini saya juga mempertemukan seniman tradisional dengan kiai. Inilah kebebasan berekspresi,” imbuhnya.
Ayah empat putera ini juga menaruh harapan yang tinggi pada sastrawan santri. “Di tengah moral bangsa yang sudah sangat carut-marut dan masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah, legislatif, maupun parpol, maka sastrawan santrilah yang akan menjadi tumpuan untuk dapat menegakkan kembali karakter bangsa yang berbudaya dan beradab,” katanya pada pembukaan Silaturahmi Sastrawan Santri bertema Pluralisme Budaya dalam Sastra , di Hotel Surya, Tasikmalaya Jawa Barat.
Dan tentu saja, pilihan pria yang telah memublikasikan puisinya sejak usia 16 tahun ini bukan tanpa resiko. “Masyarakat tidak resisten, karena mereka menyukai hiburan. Resistensi itu datang dari kelompok-kelompok tertentu, misalnya kalangan NU politik. Mereka agak tersinggung. Ada juga kelompok Islam radikal,” ungkapnya.
Menurut Iip D. Yahya dalam buku Ajengan Cipasung: Biografi KH Mohammad Ilyas Ruhiat , bagi KH Ilyas Ruhiat pilihan hidup Acep itu bagai kado liberalisme buat seorang tradisionalis.[gf/nhm] |