|
Page 1 of 4 
Multikulturalisme merupakan tantangan bagi masa depan Islam Indonesia, bahkan hal tersebut inhern dalam nilai-nilai kemodernan. Namun orientasi kemodernan itu tidak dengan sendirinya melupakan warisan tradisi (turats), kebudayaan dan intelektual masa lalu.
Dan jika Islam ingin berperan lebih dalam dalam proses demokratisasi dan perubahan secara damai di Indonesia. Maka diperlukan keberanian bagi umat dan intelektual Muslim sendiri untuk melakukan kritik diri dan aksi tranformatif yang menyentuh kepentingan masyarakat luas.
Selain itu, Islam dituntut untuk melakukan pribumisasi dengan menangkap berbagai masalah lokal yang menjadi tantangan masyarakat setempat, sehinga menjadi bagian dari keprihatinan keislaman tanpa melupakan keterkaitannya dengan masalah-masalah nasional dan internasional.
Demikian antara lain kesimpulan dari seminar sehari The Wahid Institute dengan tema utama “ Kitab Suci dan Realitas Multikultural : Menata Kembali Peran Islam dalam Demokratisasi di Indonesia pada 8 September 2004, , di Four Seasons Hotel, Jakarta, sebagai rangkaian launching lembaga Kajian Keisalaman dan Kebudayaan tersebut.
Acara seminar dibuka dengan sambutan Direktur The Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid. Sessi pertama seminar itu menampilkan pendiri The Wahid Institute K.H. Abdurrahman Wahid yang didaulat sebagai keynote speaker dengan tema: Kitab Suci dan Realitas Multikulturalisme
Sessi kedua bertema ‘Al Quran dan Metode Tafsir untuk Multikulturalisme’ oleh Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual kelahiran Mesir yang terusir dari negaranya karena ide-idenya yang kontroversial tentang Islam. Nasr kini menetap di Belanda menjadi guru besar di Leiden University dan beberapa perguruan tinggi di Eropa tentang studi Islam.
Dan Direktur Lembaga Kajian islam dan Sosial (LKiS), Yogyakarta, M. Jadul Maula. Mereka berdua menyampaikan pandanganya dalam tema: ‘Pengalaman Gerakan Sosial sebagai Tafsir atas Kitab Suci.’
Pembicara dalam sessi ketiga adalah: dosen luar biasa UIN Syarif Hidayatullah dari Leiden University, Netherlands Dr. Dick Van Der May, membawakan tema: ‘Pluralitas indonesia sebagai Modal untuk Multikulturalisme.’
Kemudian, ‘Pesantren dan Dinamika Tafsir Islam untuk Multikulturalisme’ oleh Pengasuh Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang Yahya C. Staquf. Dilanjutkan oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr. Moeslim Abdurrahman ia menyampaikan pandangan tentang ‘Kelas Menengah Islam Indonesia dan Tantangan Multikulturalisme.’ Dan Direktur Desantara Bisri Effendy membawakan tema ‘Islam dan Strategi Kebudayaan Menuju Multikulturalisme Indonesia.’
Berikut petikan pendapat mereka dalam seminar tersebut:
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >> |