header header
header
header

Home
Tentang Kami
Berita dan Agenda
Aktivitas
Opini
Buku
Jaringan
GusDur.Net
Index
 
 
 

Monthly Report XII

Download Center

 
spacer  
Jaringan   
Imam Ghozali Said, Wakil Rais Syuriah PC NU Surabaya
Ahmadiyah Saudara Kami

 

Imam Ghazali SaidPekan lalu, KH. Imam Ghozali Said bersama sejumlah kiai ke Jakarta untuk menemui Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono serta ke Mahkamah Konstitusi. Selain Ghozali, sejumlah kiai, seperti KH Qodi Syafi'i, Ustad Hafidz Nasafi, KH Abdul Aziz (Medan), KH Bukhori Masruri (Jawa Tengah), KH Ayib Ustman Yahya (Cirebon), dan KH Mustain Syafii (Jombang), ikut hadir.

Mereka datang untuk menggugat keputusan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem), yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Menurut Ghozali, warga Ahmadiyah perlu dibela karena Ahmadiyah adalah ikhwan fiddiin (saudara seagama). "Orang Islam itu ukurannya tiga, yaitu syahadat, percaya rukun iman, dan sehari-hari melaksanakan rukun Islam," kata Ghozali kepada wartawan Tempo yang menemuinya pekan silam. Berikut ini petikan wawancaranya.

Apa hasil pertemuan di Jakarta?
Belum tahu. Tapi saya katakan, kalau nanti ada surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri yang melarang kegiatan Ahmadiyah sesuai dengan rekomendasi Bakor Pakem, itu melanggar konstitusi karena teologi Ahmadiyah sudah berjalan sejak Indonesia belum merdeka dan Ahmadiyah ikut terintegrasi dalam perjuangan kemerdekaan.

Apa jawaban DPR?
DPR melalui Agung Laksono akan memperhatikan sesuai dengan mekanisme DPR. Mereka mengancam, kalau pemerintah berani mengeluarkan SKB pembubaran Ahmadiyah, mereka akan meng-impeach (memanggil dan meminta pertanggungjawaban) Presiden.

Mengapa Anda membela Ahmadiyah?
Menurut saya, Ahmadiyah itu kawan saya, ikhwanuna fiddiin (saudara kami dalam agama). Mengapa saya katakan saudara kami dalam agama, orang Islam itu ukurannya tiga, yaitu syahadat, percaya rukun iman, dan melaksanakan rukun Islam. Mereka (Ahmadiyah) salat, zakat, haji. Hajinya ke Mekah, bukan ke Qodiyan (tempat lahir Mirza Gulan Ahmad).

Dulu, yang tidak sepaham dengan Ahmadiyah bisa berdialog, sekarang kok memakai kekerasan?
Sumber utama kekerasan berasal dari fatwa Majelis Ulama Indonesia pada 1980. Ketua MUI waktu itu Buya Hamka. Tapi harus diingat, Buya Hamka juga berinteraksi dengan Ahmadiyah Padang Panjang. Keputusan MUI itu berdasarkan kajian sembilan buku Ahmadiyah yang katanya Ahmadiyah merupakan aliran sesat. Anehnya, Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar juga menafsirkan dan mengutip pendapat Ahmadiyah.

Mengapa orang membakar masjid segala, apa murni karena alasan akidah?
Alasan mereka akidah, tapi memahami secara keliru akidah Ahmadiyah. Kitab Ahmadiyah itu Qur'anul Majid (Ghozali Said menunjukkan Al-Quran versi Ahmadiyah). Isinya sama dengan Al-Quran, bedanya penuh dengan tafsir tulisan-tulisan latin. Mestinya Departemen Agama yang mengoreksi kitab ini. Kalau dianggap sesat, ya dilarang beredar.

Apa ada motif lain selain akidah?
Umumnya kawan-kawan (penentang Ahmadiyah) itu adalah alumnus Saudi Arabia, alumnus Timur Tengah yang anti-Ahmadiyah. Karena mereka tidak tahu diambilkan pemahaman tidak benar, buku-buku yang terbit di Saudi, misalnya, menganggap Ahmadiyah di luar Islam.

Mengapa pemerintah membiarkan masyarakat melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah?
Sekarang orang-orang kelompok Islam garis keras yang pakai jubah memang aktif mempengaruhi opini, terutama lewat MUI. MUI merekomendasikan kepada pemerintah. Karena aktif, dikira bener. Ahmadiyah tak punya media untuk melawan, maka pemerintah termakan. Isu aliran garis keras terlalu banyak dan dalam pemilu suaranya dianggap signifikan.

Benarkah Islam garis keras mendapatkan tempat di Indonesia?
Karena konfigurasi politik, jadi sama-sama memanfaatkan. Aliran garis keras mempunyai jaringan dengan kelompok yang berkuasa sehingga dia (aliran itu) dapat angin atau dimanfaatkan oleh kelompok yang berkuasa, karena di pihak lain ada aliran kiri yang muncul. Supaya biaya yang dikeluarkan pemerintah kecil, maka dibenturkan antara kiri dan kanan, pemerintah menjadi wasit, tapi akhirnya dia menghantam sana-sini.

Besarkah Islam garis keras di Indonesia?
Di Indonesia orang moderat jauh lebih besar dibanding garis keras, tapi garis keras lebih bersemangat dan militan menghancurkan yang lain. Kalau berhasil, giliran berikutnya Syiah. Kalau pemerintah berani melarang Ahmadiyah, berbahaya bagi masa depan Indonesia. Akan terjadi pertumpahan darah. Nanti Ahmadiyah dikejar-kejar. Orang seperti saya mungkin dikejar juga karena dianggap tidak bersih lingkungan karena membela Ahmadiyah.

Mengapa Anda dikenal lantang menentang ide negara Islam (khilafah)?
Konsep tata negara yang pernah lahir ke dunia dimulai dengan sistem kerajaan. Kemudian Islam mengenalkan system khilafah, Syiah mengenalkan sistem imamah, lalu Barat mengenalkan sistem demokrasi. Menurut saya, yang terbaik adalah demokrasi karena ada jaminan orang mengeluarkan pendapat, juga ada jaminan bagi yang menentang pemerintah. Dalam sejarah Islam, di sistem khilafah tidak pernah ada oposisi terhadap pemerintah. Oposisi dianggap menentang negara dan risikonya dikejar-kejar.

Kapan Anda mendirikan pondok pesantren An-Nur? Untuk apa dan apa saja yang diajarkan?
Pesantren ini berdiri pada 1994, punya santri pada 1995. Sekarang santri saya sudah mencapai 250 putra-putri. Semuanya mahasiswa, tidak menerima nonmahasiswa.

Sebanyak 60 persen mahasiswa IAIN Sunan Ampel, lainnya dari sejumlah perguruan tinggi di Surabaya. Santri saya ikut apa saja boleh, termasuk mengikuti Islam garis keras. Kita memberi kebebasan. Keyakinan saya, kebebasan menyampaikan pendapat dan memilih itu yang terbaik. Kitab yang diajarkan kitab kuning, tapi jumlahnya tak banyak, lebih banyak kitab putih. Ada 60 kiai yang mengajar di pesantren An-Nur.[]

BIODATA

Nama : KH Imam Ghozali Said
Lahir : Sampang, 12 Februari 1960
Istri : Nikmah Nur
Anak :

  1. Aisyah Binti Syati'
  2. Toriq H. Akbar
  3. Ahmad Nabil
  4. Fuyudun Ni'am

Pendidikan:
1980-1984: Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya (S-1)
1996-1998: Khartoum International Institut, Sudan (S-2)
Fakultas Adab Cairo University (S-3)
Pekerjaan:

  1. Pengasuh pondok pesantren An-Nur
  2. Dosen pemikiran modern Islam dan sejarah nabi di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel

(Koran Tempo, Senin, 26 Mei 2008)

 
   
spacer
Contact
spacer
spacer
spacer
header