Harlah the Wahid Institute Ke-9 & Orasi Kebangsaan "Kepemimpinan yang Berpihak pada yang Lemah (al-Mustad'afin)" Ir. H. Joko Widodo | Kamis, 26 September 2013, 09.30 - 12.30 WIB | The Wahid Institute Jln. Taman Amir Hamzah, No. 8, Jakarta | Olis (0878.3251.7514): Badrus (0813.1092.8060); Subhi (0815.8770.114); Alam (0815.9819.841)



Programs

Senin, 7 Januari 2008 04:51

 

Mojokerto, wahidinstitute.org
Moqsith
Peneliti the WAHID Institute Abdul Moqsith Ghazali menyatakan, agama Islam hadir di tengah pluralitas keberagamaan masyarakat Arab. Waktu itu, katanya, telah ada agama Yahudi, Nasrani, Watsani (penyembah berhala), dan sebagainya.

“Bahkan sebelum jatuh ke tangan orang Islam, Ka’bah sebenarnya banyak diisi oleh ritus peribadatan Kristen, Yahudi, dan sebagainya. Tradisi mengelilingi Ka’bah, sebelum Nabi SAW lahir, itu sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Arab pra Islam.”

Demikian dijelaskan dosen Universitas Paramadina Jakarta itu saat berbicara tentang Sejarah Perjumpaan Islam dan Agama Lain, pada Workshop Islam dan Pluralisme di Griya Kusuma Indah (GKI), Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (06/11/2007). Pada acara ini, Ketua Criris-Center Gereja Kristen Indonesia (CC-GKI) Pdt. Albertus Patty bertindak sebagai pemandu.

Menurut Moqsith, jauh sebelum kelahiran Muhammad, Makkah telah menjadi pusat keagamaan beragam agama. Ini terbukti dengan berdirinya Ka`bah, sebagai rumah Allah. “Karena itu, al-Qur’an menyebut Ka`bah sebagai rumah suci yang pertama kali dibangun untuk manusia,” ujarnya.

Ketika bangunan Ka`bah dipugar saat Muhammad berusia 35 tahun, katanya, para pemugarnya banyak mendapatkan tulisan-tulisan dalam bahasa Suryani, sehingga yang bisa memahaminya hanya orang Yahudi. Misalnya ditemukan tulisan berbunyi, Aku adalah Allah, pemilik Bakkah. Aku menciptakannya ketika Aku menciptakan langit dan bumi, membuat matahari dan bulan. Di sudut lain terdapat tulisan, Makkah Baytullah al-Haram, rezeki datang dari pelbagai penjuru. Ada juga batu dalam Ka`bah bertuliskan, Barangsiapa menanam kebaikan, maka ia akan memanen kebahagiaan, dan barangsiapa menanam keburukan, ia akan memanen penyesalan.

Semua ini menunjukkan, telah ada perjumpaan antara berbagai kelompok agama di Makkah. Bahkan jauh sebelum itu, kata Moqsith, Muhammad telah bertemu dengan tokoh-tokoh dari agama lain. Misalnya, ketika berusia 12 tahun (582 M), beliau menyertai pamannya (Abu Thalib) dalam sebuah kafilah dagang menuju Syam Syiria. Sesampainya di Bashra, mereka bertemu dengan pendeta Yahudi bernama Buhaira. “Buhaira konon melihat tanda-tanda kenabian pada punggung Muhammad, persis seperti dalam penjelasan naskah atau manuskrip kuno yang dibacanya,” jelasnya.

Ketika bekerja untuk mengelola bisnis Khadijah, Muhammad kembali mengadakan perjalanan ke Bashra. Saat itu, Muhammad didampingi budak bernama Maysarah. Di sana, ia berteduh di bawah pohon rindang, tidak jauh dari tempat pendeta bernama Nestor. Saat itu, kisah Moqsith, Nestor keluar dari biaranya dan bertanya tentang laki-laki yang sedang bersama Maysarah. Maysarah berkata, laki-laki itu adalah orang Quraisy dari keluarga penjaga tanah suci. Nestor berkata, “Dia tak lain adalah seorang nabi.”

“Ini menunjukkan tanda-tanda kenabian itu sudah diteropong lama oleh dua tokoh non-Muslim tersebut,” urai Moqsith.

Ketika pertama kali menerima wahyu di Goa Hira, daerah perbukitan dekat Makkah, Muhammad dilanda ketakutan. Ia didatangi laki-laki yang memaksanya membaca, padahal ia tak bisa melakukannya. Laki-laki itu mendekapnya sambil menyampaikan firman; “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena (qalam). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Sepulang ke rumah, Muhammad meminta isterinya, Khadijah binti Khuwailid untuk menyelimutinya. Dengan tubuh gemetar, Muhammad merebahkan diri di dipan. Ketika rasa takutnya reda, ia menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya. Setelah menenangkan sang suami, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang beragama Kristen. Waraqah yang sudah sepuh dan buta itu berkata, “Quddus! Quddus! Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah Namus yang dulu mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad adalah nabi.”

“Ini satu peristiwa terkenal dalam kehidupan Muhammad,” terang Moqsith.

Di saat lain, kisah Moqsith, tatkala Muhammad memasuki Makkah dengan kemenangan dan menyuruh menghancurkan berhala dan patung, dia menemukan gambar Bunda Maria (Sang Perawan) dan Isa al-Masih (Sang Anak) di dalam Ka`bah. Sembari menutupi gambar tersebut dengan jubahnya, ia memerintahkan semua gambar dihancurkan kecuali gambar dua tokoh itu. Patung Maryam yang terletak di salah satu tiang Ka`bah dan patung Yesus Kristus dibiarkan berdiri tegak.

“Tindakan ini sebagai penghargaan terhadap Isa dan Maryam. Ini sikap saling menghargai,” jelasnya. “Fakta itu sekaligus menunjukkan, sekalipun serba singkat dan ringkas, Nabi Muhammad diduga memiliki pengetahuan tentang Kristen dan Yahudi,” imbuhnya.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah di atas, Moqsith menyimpulkan, perjumpaan Islam dengan agama-agama lain pertama kali terjadi di ranah kultural, dan baru pada perkembangan berikutnya, ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, perjumpaan terjadi di ranah politik.

Dalam kaitan ini, contoh fenomenal yang bisa ditunjuk adalah keluarnya sebuah traktat yang dikenal dengan Piagam Madinah, Konstitusi Madinah, Watsiqah al-Madinah, Dustur al-Madinah, atau Miytsaq al-Madinah, pada tahun pertama hijriyah.

“Piagam ini memuat tata hubungan di antara suku-suku yang bertikai di Madinah untuk dicarikan titik temunya tanpa menghilangkan keberadaan setiap kelompok atau etnis yang berbeda-beda itu,” jelasnya.

“Melalui piagam ini, Nabi berusaha mengambil posisi sebagai wasit di tengah konflik dan peperangan di Madinah yang telah berlangsung 120 tahun,” imbuhnya.

Moqsith lantas menguraikan enam tahap perjumpaan agama Islam dengan agama-agama lain menurut analisis Jacques Waardenburg, baik perjumpaan yang damai maupun yang konfrontatif. Pertama, Muhammad tumbuh menjadi manusia dewasa di Makkah dan kemudian berhijrah ke Madinah. Di dua tempat itu, umat Islam berjumpa dengan orang Kristen, Yahudi, Mazdean, dan barangkali kaum Manikhean dan Sabian.

Kedua, selama penaklukan pertama di luar wilayah Arab pada abad ke-7 dan ke-8, kaum muslim berjumpa dengan komunitas-komunitas agama berikut; (a) kaum Mazdean di Mesopotamia dan Iran; (b) bermacam-macam kelompok Kristen yang berbeda, seperti kaum Nestorian di Mesopotamia dan Iran, kaum Monofisit di Siria, Mesir, dan Armenia, kaum Melkit Ortodoks di Siria, kaum Ortodoks Latin di Afrika Utara, kaum Arian di Spanyol; (c) orang-orang Yahudi di Mesopotamia, Iran, Siria, dan Mesir; (d) orang-orang Samaria di Palestina; (e) kaum Mandean di Mesopotamia Selatan; (f) kaum Haranian di Mesopotamia Utara, (g) kaum Manikhean di Mesopotamia dan Mesir; (h) para pengikut Budha dan orang-orang Hindu di Sind; (i) para pengikut agama-agama suku di Afrika Timur.

Ketiga, antara abad ke-9 dan ke-13, kegiatan militer mempertemukan kaum muslim dengan kelompok-kelompok berikut; (a) orang-orang Kristen Bizantin Melkit Ortodoks sepanjang perbatasan barat laut; (b) orang-orang Kristen Ortodoks Latin di Spanyol Utara, Prancis Selatan, Sisilia, dan Italia Selatan; (c) orang-orang yang ikut dalam Perang Salib di Siria Raya; (d) orang-orang Armenia Monofisit yang hidup di antara kekaisaran Muslim dan kekaisaran Bizantin; (e) orang-orang Slavia di Rusia Selatan; (f) suku-suku Turki, mula-mula bukan Muslim dari Asia Tengah sebelum mereka memeluk agama Islam dan menyusup ke dalam wilayah Muslim; (g) kaum Budha di Sind dan Punjab; (h) orang-orang Hindu di Punjab; (i) para pengikut agama-agama suku di Afrika Timur dan Afrika Barat.

“Diantara konflik-konflik di atas, yang paling dramatis adalah Perang Salib,” urai Moqsith.

Keempat, antara abad ke-13 dan ke-16, hubungan damai meningkat di antara kaum muslim dan agama-agama di India, Birma, Malaysia, Sumatera, dan Jawa. Dalam konteks Indonesia, Islam datang setelah sebelumnya agama Hindu dan Budha berdiri kokoh karena disokong Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya. Setelah dua kerajaan ini tumbang, Jawa dan Sumatera dikuasai kerajaan-kerajaan Islam. Sejarah mencatat, perpindahan kekuasaan dari kerajaan Hindu-Budha ke kerajaan Islam ternyata diikuti perpindahan agama penduduk. Abad ke-13-15 adalah masa paling ramai terjadi konversi agama dari Hindu-Budha ke Islam.

Kelima, antara abad ke-16 dan ke-19, terjadi konfrontasi antara para pengikut agama Islam dan pengikut agama Kristen. Dalam periode itu, relasi antara Islam dan Kristen di Indonesia tidak cukup harmonis, tidak sebagaimana hubungan antara Islam dan Hindu-Budha. Islam dan Kristen berkali-kali terlibat dalam konflik dan kekerasan. Tidak jarang keduanya menggunakan cara paksa kepada umat lain agar masuk ke dalam agamanya.

Keenam, dari abad ke-19 dan awal ke-21, masih terjadi ketegangan dan konfrontasi, kebanyakan bersifat politis, antara negara-negara Islam dan Barat yang melakukan ekspansi. Sejak perang dunia, terjadi beberapa kali bentrokan militer, misalnya, Pakistan dan India, Palestina dan Israel.

Namun demikian, Moqsith mengingatkan, sejarah itu tergantung yang membaca. Ia bisa menjadi fundamentalis di tangan orang fundamentalis dan bisa menjadi pluralis di tangan orang pluralis. “Kalau sedikit jujur membaca sejarah, kita akan menemukan sifat pluralis nabi,” terangnya.

“Masa depan keharmonisan di negeri bagaimana?” tanya Pdt Agustina, salah seorang peserta,. “Saya tetap optimis. Namun mestinya kerjasama antar agama ini dilakukan bukan hanya demi argumen agama, tapi demi argumen kemanusiaan,” jawab Moqsith.[nhm]