02
Jan 2014

Tiga tahun lalu saya menulis 5 seri dialog imajiner dengan Gus Dur. Keiginan menulis dialog itu muncul kembali menjelang haul Gus Dur ke-4. Kali ini, saya akan bincang-bincang soal sikap Gus Dur terhadap peristiwa 65. Jawaban-jawaban dalam dialog ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, bukan Gus Dur. Berikut petikan dialog itu.

(RD) Assalamu’alaikum Gus. Mudah-mudahan Gus Dur baik-baik saja.


(GD) ‘Alaikum salam. Alhamudulillah, saya baik-baik saja, tidak pernah kesepian. Setiap hari banyak orang datang ke sini, mendoakan saya. Kunjungan orang-orang dari berbagai penjuru itu membuat saya tak pernah merasa sendiri.


(RD) Gus Dur pasti sudah tahu, teman karib Gus Dur, Kang Muslim Abdurrahman, sudah meninggal. Begitu juga dengan tokoh yang sangat dihormati dunia, Nelson Mandela.


(GD) Iya, saya sudah ketemu kang Muslim. Beberapa waktu lalu dia berkunjung ke sini. Kalau kangen, saya sempatkan ke tempat dia. Biasa, kangen-kangenan, ngobrol ngalor ngidul. Kang Muslim itu kan orangnya lucu. Banyak cerita-cerita lucu. Jadi kalau saya dan dia ketemu, isinya ya ngakak. Nah, kalau Nelson Mandela ini tokoh yang sangat saya hormati. Dia tokoh yang luar biasa.


(RD) Seberapa besar Gus Dur hormat dengan Nelson Mandela?


(GD) Perjuangan Nelson Mandela untuk menegakkan keyakinan yang dianggap benar, sungguh luar biasa. Saya tidak ada apa-apanya. Kalau saya paling hanya melawan orde baru dan Pak Harto yang masih bisa saya akalin. Saya tidak pernah masuk penjara dan disiksa tentara. Beda dengan Nelson Mandela. Dia harus mendekan 27 tahun dalam penjara. Dia disiksa, bahkan dikencingi sipir penjara. Itu yang membuat saya kagum dengan Mandela.


(RD) Apa makna dari perjuangan Nelson Mandela itu Gus?


(GD) Maknanya, berpegang teguhlah pada keyakinan! Jangan pernah goyah meski harus menghadapi situasi yang sangat sulit. Lebih dari itu, jika kamu sudah dalam posisi menang, jangan jadi pendendam. Tidak menjadi pendendam itulah yang saya juga belajar dari Nelson Mandela. Bayangkan, ketika keluar dari penjara dia memaafkan sipir penjara yang mengencinginya. Ketika terpilih jadi presiden dan ada kesempatan untuk balas dendam, dia justru mengobarkan semangat pemaafan dan rekonsiliasi. Dia memaafkan kesalahan orang pada diri dan kaumnya, meski tidak pernah melupakan.


(RD) Bukankah Rasulullah juga mengajarkan semangat yang sama Gus?


(GD) Benar. Rasulullah itu orangnya sangat pemaaf. Orang-orang kafir Qurays yang melempari beliau dengan kotoran onta, beliau maafkan. Orang yang mengancam membunuh juga dimaafkan. Bahkan, ketika peristiwa fathu makkah dimana orang-orang Mekah sudah ketakutan karena khawatir Rasulullah balas dendam atas perilaku orang Mekah, tapi Rasulullah meyakinkan mereka bahwa kedatangannya ke Mekah bukan untuk balas dendam. Jadi jangan bilang sebagai muslim yang sejati kalau di hati kita masih ada penyakit dendam.


(RD) Nah, terkait dengan soal dendam ini Gus, Gus Dur mungkin tahu, beberapa waktu lalu di PBNU di-launching buku putih tentang peristiwa 65 dimana banyak kalangan menuduh NU sebagai pelaku kekerasan. Bahkan, Gus Dur ketika menjadi presiden pernah minta maaf kepada korban kekerasan 65. Bagaimana sebenarnya Gus?


(GD) Ini persoalan yang begitu penting, bukan hanya bagi NU tapi juga bagi bangsa. Persoalan 65 memang menjadi kerikil yang menjadikan kita sebagai bangsa sulit menatap ke depan karena ada persoalan masa lalu yang belum tuntas. Harus diakui, ada perlakukan tidak adil terhadap korban 65. Pemerintah orde baru menanamkan semangat kebencian dan permusuhan begitu kuat tertanam dalam benak kita semua terhadap apapun yang diklaim sebagai komunias. Kalau lawan politik sudah dicap komunis, habislah dia. Di pihak lain, NU seolah-olah digambarkan sebagai tukang jagal PKI. Lihat tuh laporan Majalah TEMPO beberapa waktu lalu. Ini kan berat! Karena itu, dibutuhkan keberanian untuk menerobos kebekuan itu.


(RD) Terus mengapa Gus Dur merasa perlu minta maaf. Ada yg berpendapat, kalau Gus Dur minta maaf itu seolah bentuk pengakuan atas kesalahan. Bukankah banyak kiai-kiai NU yang juga menjadi korban PKI?


(GD) Saya tahu banyak kiai-kiai NU yang jadi korban. Tapi tak sedikit juga orang-orang PKI yang jadi korban. Bahkan paman saya, Pak Ud (panggilan akrab KH. Yusuf Hasyim) merupakan pimpinan Ansor yang turut melawan PKI. Saya tidak menyalahkan kiai-kiai NU yang mengambil sikap keras pada PKI. Baik NU maupun PKI sama-sama korban keadaan. Membunuh atau dibunuh, itu yang terjadi. Masalahnya, Pak Harto menimpakan seluruh kesalahan pada PKI, dan seolah-olah tentara bersih. Sekarang sudah banyak peneliti yang melihat peristiwa 65 dari berbagai sudut pandang yang menunjukkan adanya persoalan internal tentara, tepatnya Angkatan Darat. Tidak ada faktor tunggal dalam peristiwa itu. Sekali lagi, NU dan PKI adalah korban keadaan. Karena itu, tak ada salahnya kalau saya minta maaf karena saya tidak mau mewariskan kebencian pada generasi muda NU. Dengan pemaafan, maka ke depan generasi muda NU akan lebih ringan beban sejarahnya.


(RD) Ketika buku putih di-launching di PBNU, ada orang yang bilang Gus Dur tak pernah minta maaf pada korban 65?


(GD) Ah, itu sih orang yang gak ngerti urusan. Kenapa tidak sekalian pemintaan saya untuk mencabut TAP MPRS XXV juga dianulir. Permintaan maaf dan pencabutan TAP MPRS XXV itu satu paket. Kenapa itu saya usulkan begitu, karena saya melihat TAP MPRS itu tidak adil.

Kalau tidak salah, Gus Dur minta maaf itu ketika berkunjung ke rumah Pramudya Ananta Toer, seorang sastrawan yang juga tokoh Lekra. Dan kabarnya, Pram tidak mau meminta maaf pada NU. Apa itu benar?

Iya, Pram memang tidak mau minta maaf, tapi gak apa-apa karena saya juga tahu kalau dia tidak bisa mewakili PKI meskipun dia tokoh Lekra. Sebagai pribadi, Pram memang korban. Bayangkan, dia dibuang ke Pulau Buru puluhan tahun tanpa ada pengadilan. Saya memahami pahit getir jalan hidupnya. Di sini kualitas pribadi Pram memang berbeda dengan Nelson Mandela. Meski begitu, saya tetap menghormati Pram.


(RD) Meski Gus Dur sudah minta maaf, tapi generasi NU sepeninggal Gus Dur tidak sepenuhnya mengikuti jejak Gus Dur untuk berdamai dengan masa lalu. Apa yang sebenarnya terjadi Gus?


(GD) Saya juga sedih, kenepa generasi NU kok semakin kerdil. Minta maaf tidak otomatis mengakui bersalah. Hanya inilah cara bagi NU untuk meringankan beban sejarah masa lalu. Yang saya khawatir, saya dengar ada orang-orang dari tentara tua yang sering datang ke PBNU. Anda perlu waspada NU akan kembali dijadikan bemper. Tahun 65 NU itu bemper. Kalau salah mengelola, bukan tidak mungkin NU akan kembali dijadikan bemper.


(RD) Apakah Gus Dur melihat ada tanda-tanda ke arah sana?


(GD) Tanda-tanda sih ada, tapi saya belum bisa memastikan. Saya minta generasi seperti sampeyan waspada saja.


(RD) Kalau diamati Gus, persoalan komunisme sekarang ini tidak banyak perubahan. Bahkan, setiap menjelang pemilu, masih saja ada orang-orang yang teriak: awas komunis menyusup jadi caleg!


(GD) Itulah kalau orang takut dengan baying-bayangnya sendiri. Propaganda orde baru “awas bahaya laten komunisme” itu terkadang menumpulkan akal sehat kita. Musuh itu bisa diciptakan dan orde baru sukses menciptakan musuh itu. Masalahnya, apakah kita harus mewarisi permusuhan itu dan nanti kita wariskan ke anak cucu kita. Biarlah kita mewarisi kebencian yang diwariskan orde baru, tapi kalau bisa jangan wariskan kebencian itu pada anak cucu kita.


(RD) Wah, perbincangan kita semakin serius ini Gus. Tapi Gus Dur sudah tampak lelah, jadi saya tidak ingin mengganggu waktu istirahat Gus Dur.


(GD) Kalau lelah sih tidak. Setiap hari kerjaan saya ya jagongan begini.


(RD) Matur suwun Gus, nanti bincang-bincang kita sambung kembali ke persoalan lain ya Gus. Sanes wekdal, kulo sowan maleh.

8429
 

Add comment


Security code
Refresh