11
Okt 2015

 

Sukabumi--Dalam dunia serba digital, seringkali kemasan gagasan dan gerakan dianggap lebih penting ketimbang isi. Ada banyak gagasan besar dan baik yang dipikirkan bahkan dilakukan di Indonesia. Tapi tidak semua gagasan yang lahir menjadi gerakan yang memberi dampak luas. Salah satunya lantaran gagal dalam mengemas. Belajar dari kegagalan itu, Irfan Amali berusaha mengemas gerakan perdamaian dengan cara kreatif. “Lewat gerakan Peace Generation, kami ingin menyebar perdamaian lebih luas,” kata Irfan kepada puluhan peserta Pelatihan Dasar HAM dan Hak-hak Kewarganegaraan untuk Pemuda di Sukabumi, Rabu (7/10).

 

Peace Generation didirikan tujuh lalu. Sudah melatih ribuan guru dan murid di Indonesia. Bersama Erick Lincoln asal Amerika, pria kelahiran 28 Februari 1977 ini membuat modul perdamaian bagi guru dan murid. Digunakan di berbagai kota; diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ide dan gerakan yang hendak diangkat, perdamain dan antikekerasan.

 

“Apa yang saya lakukan ini tidak sehebat yang dibayangkan. Ada banyak gerakan lain yang sudah jauh lebih lama dan lebih besar. Tapi lewat media sosial dan gerakan yang kreatif, gerakan ini dikenal lebih luas. Terutama setelah dipublikasi media,” ungkap alumnus Universitas Islam Negeri Bandung ini.

 

Untuk mengembangkan gerakan ini, Irfan mendesain mirip multi level marketing. Peace Generation membuat nama-nama posisi bagi para agen perdamainnya. Salah satunya sebutan “Ambassador”. Jaringan agen perdamaian tidak hanya di Indonesia. Mereka tersebar hingga Singpaura dan Australia.

 

Kepada peserta pelatihan, Irfan mendorong agar mereka mencari jalan kreatif mengembangkan gerakan sosial. Peserta pelatihan umumnya anak-anak muda berusia 20-25 tahun. Mereka aktif di sejumlah kegiatan sosial keagamaan. Latar belakang agama dan keyakinan mereka beragam (AMDJ). []

2476
 

Add comment


Security code
Refresh